SHARE

METROPOLITAN.ID – Namaku Fitri, seorang wanita karier yang banyak menghabiskan waktu di luar. Setiap hari aku disibukkan dengan pekerjaan kantor. Tak terkecuali suamiku, Farhan (nama samaran),ia  juga sibuk bekerja menafkahiku. Rumah tangga kami harmonis dan berkecukupan karena terbantu dari hasil kerjaku. Namun, suatu hari Allah menegurku karena harta yang kumiliki.

Aku sudah lama bekerja kantoran, setiap bulannya bisa mengumpulkan uang hingga Rp7 juta. Sedangkan suamiku hanya penjual roti bakar di pagi hari dan lanjut jualan es cendol di siang harinya. Pekerjaanku dan pekerjaannya sangat jauh berbeda.
Malam hari sepulang kerja, kepalaku terasa pusing. Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang setibanya di rumah. Namun suamiku yang sudah berada di rumah setelah berjualan, mendadak merasakan hal yang sama. Ia masuk angin dan kepalanya terasa pusing.
Mas Farhan, begitu sapaku, meminta diambilkan segelas air putih. Tapi secara spontan aku tak menurutinya karena kepalaku juga pusing. “Abi ambil sendiri lah, aku juga pusing,” timpalku padanya.
Karena aku merasa capek, aku langsung tertidur pulas. Pada tengah malam aku terbangun, aku ingat belum menjalankan salat Isya. Aku bergegas wudhu dan melebarkan sajadah. Alhamdulillah, rasa pusingku perlahan hilang.
Beranjak dari sajadah, aku melihat suamiku tidur dengan pulasnya. Menuju dapur, aku lihat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa yang mencucinya jika bukan suamiku. Bukan hanya itu, seluruh pekerjaan rumah tangga juga sudah ia selesaikan.
Di malam itulah aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa durhaka pada suamiku sendiri yang telah mengerjakan semuanya. Padahal, aku tahu kalau ia sedang tak enak badan.
Aku segera kembali ke kamar, berharap suamiku bangun dan mau menjelaskannya. Namun, sepertinya ia terlalu lelah hingga tak kunjung bangun. Rasa iba mulai memenuhi jiwaku. Aku  pegang wajah Mas Farhan. Ya Allah, panas sekali pipi dan keningnya. Rupanya Mas Farhan demam tinggi. Aku merasa bersalah karena sebagai istri tak bisa merawatnya. Bahkan, saat diminta mengambilkan air putih pun aku justru membantahnya.
Air mataku terus menetes. Allah menegurku karena aku telah melupakan hak-hak suamiku. Aku sadar jika selama ini aku terlalu sombong dengan apa yang kupunya. Aku merasa bisa mencukupi hidupku sendiri tanpa harus mengandalkan gaji suami yang hanya Rp700 ribu per bulan. Penghasilan itu jauh dengan yang kudapatkan selama ini.
Dengan gaji yang aku miliki, aku merasa tak perlu meminta nafkah pada suami meski ia selalu memberikan hasil jualannya itu dengan iklhas.
Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata, “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Diambil ya, untuk keperluan kita. Jumlahnya memang tidak banyak, mudah-mudahan Umi ridho”. Begitulah katanya.
Saat itu aku baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat aku sombong dan durhaka pada nafkah yang telah diberikan suamiku. Aku yakin hampir tidak ada wanita karier yang selamat dari fitnah ini.
Tak lama, akhirnya aku memutuskan berhenti bekerja dengan harapan bisa lebih menghargai nafkah yang diberikan Mas Farhan. Wanita memang sering susah jika tanpa harta, tapi karena harta juga wanita sering melupakan kodratnya. (*/feb/run)

Seperti yang diceritakan
Fitri pada Kisahmuslim.com

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY