SHARE

METROPOLITAN.ID – Setelah itu aku mulai mendapatkan sikap yang berbeda dari mertua. Mertua pun mulai nyinyir, ”Kamu sendiri, apa Doni suka masakan kamu? Kamu kan tidak bisa masak? Oh pasti mau disuguhi masakan pembantu ya?”ketus mertuaku. AKU semula hanya tertawa. Agak aneh memang mendengar mertua memanggilku ”kamu”, padahal biasanya dia memanggil namaku langsung. Tapi itu belum seberapa. Mertua bahkan dengan sinis mulai menghina, ”Kalau ngontrak atau beli, paling kamu hanya bisa dapat rumah tipe 45. Apa nyaman tinggal di rumah sekecil itu? Doni itu dari lahir sampai kawin, pasti tak pernah membayangkan akan tinggal di kandang bebek.”Aku menjelaskan, keinginan itu bukan datang dariku, tapi dari suami sendiri. Mertuaku, ibu Doni, tak percaya. Maka, aku diminta Doni bicara. Hasilnya ribut besar. Doni dikatakan tunduk di bawah kendaliku dan mulai berani pada ibunya. Lucunya, sikap bermusuhan juga mulai ditunjukkan ipar-iparku. Anakku tak lagi mau dijaga mereka kalau aku ke kantor. Mertua juga mulai menolak dan mengatakan dia bukan pembantu yang bisa dititipkan anak sesukaku. Aku mulai emosi. Anakku akhirnya dijaga pembantu. Keinginan pindah aku percepat.Dua bulan sebelum pindah, karena rumah yang kami beli harus diubah dan direnovasi sendiri, adalah penderitaan terberatku. Mertua mulai memberikan tagihan listrik. ”Dibayar berempat, jadi masing-masing dapat bagian seperempat,” katanya. Padahal, aku tahu ipar-iparku tak ditagih semacam itu. Aku mengalah dan membayar. Tapi apa jawaban mertua, ”Oh, kamu sudah mulai mampu ya membayar tagihan listrik?” Aku hanya mengelus dada. Akhirnya tagihan air juga mereka minta. Pembantu yang dipaksa meminta sampai gemetaran ketika menyampaikannya kepadaku.Aku seperti anak kos. Mulai dari makan aku beli dari luar, demikian juga minum. Mencuci aku pakai pembantu sendiri. Semua kujalani sendiri. Untunglah suami mendukungku terus. Dia tahu ibunya memang ingin selalu berada di belakang kami. Tapi ia juga tahu bahwa hidup mandiri akan lebih berarti bagi kami.Ketika akan pindah, cobaan itu makin bertambah. Mertua mengatakan kepada suami dia ingin ikut. Ikut ke rumah kecil kami yang dia hina. Ikut ke rumah kecil kami yang dia katakan seperti kandang bebek. Dia memaksa karena tak ingin pisah dari cucunya. Padahal, sudah dua bulan cucunya itu tak dia sentuh. Dia juga berkata ingin mengajariku memasak, karena dia tahu aku tidak bisa memasak. Suamiku jadi bingung. Rasanya tak sopan kalau menolak keinginan ibunya. Sementara aku tetap bertahan dan mengatakan tidak. Aku bilang ingin mandiri. Aku berjanji kalau tidak mampu hidup sendiri, akan kembali kepada keluarga. Tentu, itu basa-basiku saja. Tapi mertua mendesak. Aku pun panas. ”Mama, aku tak akan sanggup menggaji Mama…” kataku.(*/yok/py)Seperti diceritakan
Citra kepada blogger.com

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY