SHARE

METROPOLITAN.ID – Sebelum menikah, aku acap mendengar betapa susah kalau hidup sama mertua. Begitu salah, begini salah. Mertua dan menantu adalah dua pihak yang tak mungkin menyatu. Cerita semacam itu sudah umum, sebab itulah kakakku setelah menikah langsung memisahkan diri dari mertuanya. Adikku yang juga menikah terlebih dulu dariku juga memilih mengontrak rumah hanya untuk berpisah dari mertuanya.

Aku berencana tidak begitu, sebab calon mertuaku sangat baik. Sebelum menikah, aku sudah terbiasa bersama dia, berbelanja, masak dan kadang berkebun bersama. Kekasihku memang keluarga yang cukup berada, tapi posisi itu tak membuat mertua menjaga jarak denganku. Apalagi Doni, anak lelaki terakhir yang mereka sayangi lebih dari kakak-kakaknya. Aku pun kecipratan rasa sayang itu, terlihat dari calon iparku yang acap menggoda dengan mengatakan bahwa aku akan menjadi menantu tersayang. Hal itu tentu membuatku tersipu malu
Tibalah kami menikah, dan tak ada cerita mertua galak dalam hidupku. Aku tinggal bersama mertua dan dua iparku di rumah besarnya, semua berjalan lancar. Sebelum ke kantor, aku selalu membantu mertua masak, membaca koran bersama sembari minum teh di teras, menyirami kebun atau berbincang tentang kehamilanku yang belum datang. Mertua seperti orang tuaku sendiri, bebas berbicara dan tak berjarak. Aku jadi percaya kalau mertua dan menantu bukan dua kutub magnet yang selalu bertolak belakang.
Tak lama, aku pun hamil dan melahirkan anak lelaki tampan. Mertuaku kian sayang dan tak pernah ada pertengkaran. Mertuaku yang lelaki teramat sibuk dengan pekerjaannya di kantor, meski begitu ia selalu menyempatkan ”mengganggu” anakku setiap pagi. Dia memang acap memintaku berhenti kerja, tapi hal itu selalu kutampik. Memang mereka akan mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga kami, seperti juga beberapa iparku yang tak bekerja. Tapi, aku merasa bekerja adalah harga diriku di depan mereka.
Setahun berlalu, anakku mulai bisa berjalan. Kami pun berencana membeli rumah dari tabunganku dan sisa gaji suami yang kusimpan. Bukan apa-apa, tinggal bersama tiga keluarga lainnya membuat hal-hal pribadi hilang di rumah ini. Meski punya kulkas sendiri, makanan di dalamnya jadi bisa disentuh siapa saja. Meski bisa masak sendiri, tapi selama dua tahun selera kami menjadi selera bersama. Kadang waktu yang ingin kami habiskan berdua di kamar, harus hilang karena tak nyaman kalau tak tampak di ruang keluarga. Karena hal-hal kecil tapi penting itulah yang membuat kami ingin punya rumah sendiri. Kami pun membicarakan hal ini dengan mertua, tentu dengan alasan yang halus dan tak menyinggung mereka. Mertua lelaki setuju-setuju saja, tapi mertua perempuan hanya diam tak menjawab. (*/yok/run)

Seperti diceritakan ibu
Citra kepada bloger

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY