News, Sport and Lifestyle

Aku Mencintainya setelah Ia Tiada (1)

METROPOLITAN.ID – Walau terpaksa, aku tak pernah menun­jukkan sikap benciku. Setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan untuk meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapa pun. Kedua orang tuaku sangat menyayanginya karena menurut mereka suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri mereka satu-satunya.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja dan melakukan segala hal sesuka hati. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku benar-benar tak pernah menjalankan tugas sebagai seorang istri, aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah sepantasnya karena aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga sudah tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorang pun yang berani melawanku, jika ada sedikit masalah saja aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja yang me­ninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meski untuk peker­jaannya, aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memenc­etnya dengan rapi dan aku juga marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukungku melakukan Keluarga Berencana (KB) dengan pil. Namun, rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam. Hal itu terlihat ketika aku lupa minum pil KB, meski ia tahu tapi ia membiarkannya. Aku pun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan. Dokter pun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahan terbesarku padanya.
Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi (operasi kecil) agar tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkan­nya bersama kedua anak kami. (*/yok/run)
Seperti diceritakan Kislim Mizy pada kisah sedih Islami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *