SHARE

METROPOLITAN.ID – Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun ke-8. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Ia mengingatkan bahwa hari itu adalah hari ulang tahun ibuku.

Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya. Ia tidak ingin tahun ini seperti tahun sebelumnya bahwa kala itu aku pergi ke mal dan tak hadir di acara ulang tahun ibu. Karena merasa terjebak dengan pernikahanku, aku juga membenci kedua orang tuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku dan diikuti anak-anak, tetapi hari itu ia juga memelukku disertai anak-anak menggodanya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya meski akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, aku memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba beberapa jam kemudian, lalu bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Saat akan membayar tagihan salon, betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tak ada di tas.
“Maaf sayang, kemarin Farhan minta uang jajan, aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu. Kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Kata suamiku menjelaskan dengan lembut lewat telepon.
Dengan marah, aku berbicara kasar padanya. Aku langsung menutup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphone-ku berbunyi. Walau masih kesal, aku tetap mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apa lagi?” jawabku.
“Sayang, aku pulang sekarang. Aku akan ambil dompet dan mengantarkannya. Sekarang kamu ada di mana?” tanya suamiku dengan cepat. Setelah memberi tahu posisiku, aku kembali menutup telepon. Aku segera berbicara pada kasir bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si pemilik salon sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi karena ia sudah menjadi sahabatku. Hal itu membuatku merasa malu karena orang yang tidak kusukai tadi yang sekaligus musuhku mendengar kejadian tersebut dan membuatku gengsi untuk berhutang. (*/yok/run)
Seperti Diceritakan
Kislim Mizy di Kisah Sedih Islami

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY