SHARE

METROPOLITAN.ID – Hujan pun turun ketika aku melihat ke luar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga segera menghubungi handphone-nya. Meski sudah berkali-kali kutelepon, dia tak juga mengangkat handphone-nya. Biasanya hanya dua kali berdering saja handphone-nya langsung diangkat. Hal itu membuatku mulai merasa tidak enak dan marah.

Akhirnya ia menjawab teleponku setelah beberapa kali kuhubungi. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri. “Selamat siang Ibu. Apakah Ibu istri dari bapak armandi?” tanyanya. Aku pun segera menjawab pertanyaannya.
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi. Ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone. Beberapa pegawai salon mendekatiku, dengan sigap bertanya hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Seluruh keluarga juga segera menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa, menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar akhirnya seorang dokter keluar dan menyampaikan kabar bahwa suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu namun serangan stroke-lah penyebab kematiannya. Setelah mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orang tuaku dan orang tuanya yang shock. Sama sekali tak ada air mata setetes pun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah dan ibu serta mertuaku. Anak-anak yang terpukul segera memelukku dengan erat. Nmaun, kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah, aku hanya duduk di hadapannya dan termangu menatap wajahnya. Kusadari, baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Segera kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin. Inilah kali pertama aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.
Air mata merebak di mataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar air mata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya. Aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Bukannya berhenti, air mataku semakin deras membanjiri kedua pipiku.
Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman, tak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara. (*/yok/run)

Seperti Diceritakan Kislim
Mizy di Kisah Sedih Islami

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY