SHARE

METROPOLITAN.ID – Masih ingat dengan tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di lereng Gunung Salak pada 9 Mei 2012 silam? Tak terasa sudah tiga tahun insiden berdarah itu berlalu. Harian Metropolitan menelusuri kembali jejak sejarah Sukhoi ke Kampung Pasirpogor, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor yang kini namanya jadi terkenal dengan sebutan Kampung Sukhoi. Sampai akhirnya menemukan misteri harimau putih di balik gang menuju Lapangan Sukhoi yang sempat dijadikan tempat evakuasi korban Sukhoi.
Udara dingin dan bersih menyapu paru-paru saat menyusuri Kampung Sukhoi yang berada tepat di kaki Gunung Salak. Roda motor terus berpu­tar menelusuri bentangan ja­lan beraspal, melewati rumah penduduk. Hingga akhirnya sampai di tujuan, yakni lapa­ngan bekas posko utama evakuasi jenazah korban Sukhoi.
Tanah lapang itu kini dikenal dengan sebutan Lapangan Sukhoi. Lokasinya berada di wilayah Rt 2/7, Kampung Pogor, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.  Saat ini, lapangan itu banyak dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat seperti bermain bola, tabligh akbar atau kemah siswa. Kadang, ada pula keluarga korban Sukhoi yang se­ngaja mendatangi lapangan itu untuk mengenang kerabatnya.
Dari penuturan warga setempat, biasanya mereka datang sambil menabur beras atau bunga di hari-hari tertentu. “Ya memang suka ada yang datang (keluarga korban, red), tapi nggak banyak.  Waktunya sesuai tanggal di mana pesawat itu jatuh,” kata seorang pekerja di peternakan sapi yang lokasinya dekat dengan Lapangan Sukhoi, Mumuh.
Namun untuk sampai ke Lapangan Sukhoi, setiap orang harus melewati gang yang konon menyimpan cerita mistis hingga saat ini. Lapangan yang pernah dijadikan tempat transit jenazah korban Sukhoi itu tersembunyi di balik sebuah gang membentuk huruf Z yang diyakini ada penunggunya.
Posisi gang itu berada di antara dua sekolah, yakni SD Negeri Pasir Pogor dan SMP Negeri 1 Cijeruk. Kontur jalannya berupa tanah datar. Semakin ke dalam menuju lapangan, jalannya berbatu dan menikung. Warga percaya tikungan yang dekat makam keramat milik keturunan Prabu Siliwangi itu ditunggu makhluk halus.
Setiap selepas Magrib, tak ada warga yang berani melewati gang itu. Sebab, ba’da Magrib, kawasan itu berubah menjadi seram. Tak sedikit warga yang menceritakan pengalamannya bertemu seekor harimau.
Ketua RT 02/07, Muhammad Ajiji, mengakui adanya misteri sosok harimau di kampungnya. Sebab, banyak tempat keramat yang tersebar di Kampung Pasir Pogor. “Memang ada yang cerita itu (harimau putih). Ada juga yang kesurupan waktu main di sana. Tapi, intinya selama di kampung ini setiap omongan harus benar-benar dijaga, tidak boleh sompral,” pesannya.
Untuk mengungkap kebenarannya, Harian Metropolitan menemui seorang tokoh spiritual yang tinggal dekat Lapangan Sukhoi. Namanya Aep Edi Gunawan. Lelaki paruh baya itu dikenal sebagai pe­nunggu Gunung Salak.
Rumahnya persis di ujung gang angker tersebut. Bangunan kayu bercat putih milik Aep itu satu-satunya rumah yang ada di ujung gang. Di sekeliling rumahnya ditumbuhi tanaman palawijaya yang cukup rimbun. Namun, keindahan Gunung Salak bisa terlihat jelas dari rumahnya.
Sosok Aep terlihat sederhana dan ramah. Bapak sembilan anak itu mengakui kebenaran soal cerita warga. Sebab di gang menuju rumahnya ada sebuah makam keramat.
Sayangnya, ia tak ingin membeberkan banyak hal tentang misteri di sekitar kawasan Gunung Salak. Termasuk cerita mistis di balik gang menuju Lapangan Sukhoi yang kerap dianggap angker. Aep hanya berpesan agar setiap melintasi tikungan gang, pengendara harus membunyikan klakson  agar tidak celaka.
“Saya tidak bisa cerita, mohon maaf. Memang di sana ada dua tikungan yang ada penunggunya. Banyak yang sering jatuh dan akhirnya tak bisa jalan setelahnya. Lebih baik bunyikan klakson kalau pulang dari sini,” pesannya.
Ia juga tak menampik adanya seekor harimau yang sering dibicarakan warga. Dirinya hanya mengatakan bila di dekat gang itu terdapat makam  Bapingahad. “Sebelum ada rumah ini, tadinya tidak ada yang berani ke sini. Setelah pukul 4 sore sudah sepi. Memang ada yang melihat harimau atau makhluk halus lainnya,” ujar lelaki itu kepada Harian Metropolitan.
Lebih jauh, Harian Metropolitan kembali mengulik cerita di balik gang mistis menuju Lapangan Sukhoi. Kali ini, wartawan Metropolitan menemui seorang sesepuh lainnya di Kampung Pasirpogor, Rt 3/7, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Namanya Haji Marsha Abdullah. Lelaki yang mengenakan sorban itu beercerita banyak soal misteri di balik gang angker tersebut.
Konon di dekat gang itu terdapat makam keramat yang dikenal dengan makam Baping Ahad dan Pangeran Nur Alam. Warga pribumi mengenalnya dengan sebutan uyut Ana. Sedangkan istlah baping digunakan sebagai bentuk penghormatan. Keduanya dikenal sebagai keturunan dari Prabu Siliwangi. Marsya yang merupakan warga asli di kampung itu mengakui bila gang itu ada penunggunya.
“Memang suka ada yang melihat harimau putih, kadang nenek-nenek lagi melintas. Waktu baru-barunya insiden, anak SD malah lihat kaki jalan dan kepala mengge­lin­ding,” kisah­nya.
Di rumahnya, Marsha yang tinggal bersama istrinya menyebut bila makam yang berada dekat gang itu sering didatangi para peziarah. Setiap ada kegiatan di kampungnya, masyarakat selalu melakukan ritual untuk meminta izin sang penunggu Kampung Sukhoi. Biasanya, masyarakat membawakan pepes ikan dan buah sawo serta kopi hitam.
“Ini bukan musrik ya, tapi termasuk tradisi yang berkembang di masyarakat. Kalau tidak dilakukan ritual itu, acara apa pun jadi gagal dan jadi petaka,” ungkapnya.
Unsur klenik memang  sa­ngat kental di Gunung Salak. Banyak dongeng atau legenda yang masih diingat warga sekitar gunung yang terletak di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu. Salah satunya menyangkut makam keramat Raden KH Syekh Mohomammad Hasan yang terletak di Puncak Salak I, sering disebut Puncak Manik. Di dekat puncak itulah pesawat milik Rusia hancur hingga  menewaskan 45 penumpang. Ada 41 makam keramat yang tersebar di kawasan Gunung Salak bagian Utara. Mulai dari ka­ki gunung, lereng, bukit hing­ga di puncak Gunung Salak. “Penunggu Gunung Salak tak menginginkan adanya kesombongan,” pesannya menyudahi obrolan Harian Metropolitan. (feb/wan)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY