News, Sport and Lifestyle

Apartemen Depan Kampus Bisa Bikin Sesak Napas

METROPOLITAN.ID – Meski rencana pembangunan Apartemen Grand Park City Pakuan (GPCP) Bogor masih menjadi pro-kontra, ternyata penjualan perdana apartemen ini sudah dimulai pada 25 April 2015 lalu. Dalam kurun waktu kurang lebih 20 hari, unit studio view pool pun sudah habis terjual. Hal itu terekan dalam website http://apartemen-gardenia.blogspot.co.id/2015/01/grand-park-city-pakuan-nup.html yang mengupas perjalanan hunian di bawah pengembang Gapura Prima Group itu.
Dalam website itu, tertulis jika Apartemen Grand Park City Pakuan Bogor bakal menggarap pangsa pasar 25 ribu sampai 30 ribu maha­siswa/i Universitas Pakuan Bogor. Nantinya apartemen itu dibangun tiga tower (Griffith Park Tower I, Orchard Park Tower II dan Phoenix Park Tower III) dengan ketinggian 21 lantai dan diisi total 491 unit.
Hal ini pun mengundang beragam komentar dari berbagai kalangan, tak terkecuali Direktur Lembaga Kajian Masyarakat (Lekat) Abdul Fatah. Pria dengan akun media sosial yang dikenal kumis beracun ini menegaskan, dengan munculnya beberapa bangunan baru seharusnya menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Fatah juga mendesak agar Walikota Bogor Bima Arya lebih sadar dan teliti dalam mengawasi setiap pembangunan yang ada.
DPRD, kata Fatah, juga didorong agar membuat peraturan tentang kriteria bangunan apartemen. Karena sejauh ini belum ada aturan yang jelas tentang hal tersebut. Apalagi Kota Bogor saat ini sedang berkembang ke arah Kota Metropolitan.
Fatah mencoba menganalisis dampak lingungan yang akan didapatkan masyarakat sekitar terkait rencana pem­bangunan apartemen itu. Di antaranya yakni sirkulasi udara pemukiman akan terganggu karena adanya gedung tinggi dan sinar matahari yang akan terhalang bangunan apartemen. “Hal-hal tersebut pasti tidak bisa dihindarkan masyarakat. Kalau sudah begitu, udara semakin sedikit dan akibatnya warga menjadi sesak napas karena kekurangan ruang terbuka,” terangnya.
Abdul Fatah pun berharap, Universitas Pakuan melakukan kajian akademis terkait rencana pembangunan apartemen yang berlokasi di depan kampusnya. “Nantinya akan terlihat dampaknya seperti apa setelah dilakukan kajian akademisnya,” paparnya.
Hal senada disampaikan Ketua Himpunan Mahasiswa Bogor (Himabo) Muhammad Fajarudin. Ia menegaskan, bakal ada hal negatif yang ditimbulkan dari rencana pembangunan apartemen itu. Salah satunya dampak moral. Dengan berdirinya apartemen di depan kampus, dikhawatirkan akan menjadi tempat mesum dan hal-hal negatif lainnya yang disalahgunakan para penghuni mahasiswa. Sebab, imej buruk hunian bertingkat itu kerap diekspos media. “Salah satunya yakni menjadi tempat maksiat dan sarang peredaran narkoba,” katanya.
Sebelumnya, pihak manajemen GPCP Bogor Amir menjelaskan, apartemen ini sudah mulai dipasarkan beberapa bulan lalu. GPCP Bogor nantinya berdiri di atas lahan 1,6 hektare dengan tiga tower bangunan. “Tetapi dari 1,6 hektare ini tidak akan dibangun semua. Beberapa persennya untuk lahan terbuka hijau,” katanya.
Amir juga menambahkan, banyaknya penolakan terkait pembangunan Apartemen GPCP merupakan hal yang wajar terjadi di kalangan masyarakat. Walaupun menurut Amir dari sekitar 30 pedagang sudah hampir 90 persen sepakat direlokasi dan hanya ada beberapa pedagang lagi yang masih bertahan. “Tinggal empat pedagang lagi yang masih bertahan, padahal para pedagang itu bukan pribumi di sini,” pungkasnya. (mam/b/ram/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *