SHARE

METROPOLITAN.ID – Menurut pengakuan salah satu ketua tim pengumpul dana asuransi kematian, Amdan, program yang dijalankan warga tersebut sudah berjalan tiga tahun. Dalam pelaksanaannya, setiap KK telah disepakati untuk dipungut biaya Rp5 ribu per bulan. Kemudian, dana yang terkumpul akan dijadikan kas dan akan digunakan untuk menyantuni setiap keluarga yang sedang mengalami musibah.
“Program ini memang kami jalankan dari warga untuk warga. Setiap ada orang meninggal, keluarga akan mendapat dana dari asuransi kematian RW 10 sebesar Rp500 ribu dan perlengkapan jenazah,” ujarnya kepada Metropolitan, kemarin.
Program itu diyakini sangat bagus karena merupakan salah satu bentuk gotong-royong untuk meringankan beban orang lain. “Warga juga sangat mendukung program ini karena benar-benar terasa manfaatnya,” kata pria yang akrab dipanggil Mudin itu.
Tak hanya setiap KK, para pemuda RW 10 juga turut serta mengikuti program asuransi kematian itu. Para pemuda memiliki tradisi ’Sebar Amplop’ yang nantinya amplop itu akan dikumpulkan kembali untuk membantu keluarga yang meninggal. “Biasanya kalau pemuda setiap ada orang yang meninggal langsung menjalankan tradisi (Sebar Amplop, red), dua atau tiga hari kemudian dikumpulkan lalu diserahkan kepada keluarga yang terkena musibah,” terangnya lagi.
Dia berharap program asuransi kematian RW 10 ini bisa dicontoh warga lainnya. Sebab, meski jumlah yang diberikan tidak banyak, jumlah tersebut dirasa cukup membantu. “Ya mudah-mudahan saja banyak yang mengikuti program ini. Karena ini benar-benar dari warga untuk warga,” pungkasnya. (ano/b/sal/wan)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY