SHARE

METROPOLITAN.ID | Jakarta – Di hadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi), para menteri dan aparat penegak hukum dari pusat sampai daerah, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengingatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sulit dipadamkan dan menyebabkan kabut asap selama berbulan-bulan pada tahun 2015, tidak boleh terjadi kembali tahun 2016.Untuk itu, dalam pengarahannya, JK mengingatkan betapa pentingnya perencanaan menghadapi karhutla. Apalagi, Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan akan el nino (anomali suhu permukaan air laut di samudra pasifik) yang menyebabkan kekeringan terus berlanjut di tahun 2016 ini. Bahkan, lebih menguat.”Perencanaan sekarang ini harus lebih awal melihat estimasi (el nino) dari BMKG. Meskipun, kita mengharapkan estimasi itu tidak seburuk tahun lalu. Tetapi, bagaimanapun jauh lebih baik bersiap daripada lengah pada waktunya, seperti apa yang kita alami tahun lalu. Apalagi, kalau sudah ada asap yang terlanjur besar,” papar JK di Istana Negara, Jakarta, Senin (18/1).Menurut JK, berdasarkan pengalaman penanganan karhutla dan kabut asap tahun 2015, pesawat atau helikopter sulit beroperasi dalam keadaan penuh asap dan jarak pandang hanya sejauh 100-200 meter. Akibatnya, dana sebesar Rp 500 miliar yang dikeluarkan untuk menyewa pesawat dan lain-lain kurang efektif mengatasi karhutla.Oleh karena itu, kembali JK mengatakan bahwa tahun 2016, perencanaan pencegahan harus lebih awal. Meskipun, itu harus mengeluarkan ongkos yang sedikit lebih besar.Beberapa perencanaan yang dimaksud adalah perhitungan terkait metode pemadaman api yang akan dilakukan, seperti melalui darat atau udara.”Kalau daerahnya itu (yang terbakar) ada sumber (air) dekat maka pakai helikopter tetapi kalau airnya sulit maka cocoknya tentu airbombing yang besar,” ujar JK.Kemudian, lanjutnya, jika pemadaman melalui udara maka harus diperhatikan dilakukan sebelum api membesar dan asap terlanjur banyak.Sedangkan, pemadaman melalui darat harus dipastikan bahwa setiap daerah mempersiapkan banyak truk tangki yang besar untuk menampung air dan mempersiapkan tenaga untuk melakukan pemadaman. Sebab, pengalaman tahun 2016, kurang peralatan sehingga banyaknya personil tentara yang diturunkan menjadi tidak efektif.Selain itu, JK juga menggarisbawahi pentingnya dibuat satu garis komando dalam penggunaan peralatan dalam rangka pemadaman api.”Yang paling penting juga pemantauan secara rutin. Jauh lebih cepat, lebih mudah untuk memadamkan (api) yang kecil dari pada yang besar,” ungkapnya.Selanjutnya, JK juga meminta perusahaan-perusahaan di daerah perkebunan untuk turut berperan dalam melakukan pemantauan rutin. Terutama, perusahaan yang memiliki helikopter.Kemudian, JK juga mengatakan daerah harus berperan dengan baik. Mengingat, yang pertama tahu ada karhutla ada aparatur di daerah sehingga setiap daerah memiliki mobil patroli dan pompa-pompa air.Jika semua perencanaan dilakukan dengan baik, JK meyakini bahwa masalah karhutla tahun 2016 dan tahun setelahnya, dapat diatasi.”Sekali lagi, tahun ini tidak boleh gagal atau tidak boleh kurang dari pada tahun lalu operasinya dan jangan menjadi masalah internasional lagi, di mana dunia menganggap kita perlu lebih memperbaiki sistem kita,” tegasnya.(beritasatu.com)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY