SHARE

METROPOLITAN.ID – Seperti biasa, kali ini aku ke rumah polisi yang kutabrak itu, Mas Har. Ini keempat kalinya aku ke sana untuk mencicil ganti rugi. Sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih, dia menerima “setoranku” dan ngobrol sejenak. Tak kusangka, sambil mesem dia bertanya padaku tentang rencana pernikahan. “Apakah sudah ada rencana untuk nikah apa belum,” tanyanya.“Kadang ada juga mas kepikiran ke situ. Pengennya nggak nunda-nunda, tapi jodohnya belum ada,” jawabku sambil malu-malu.
“Mau sama adikku, orangnya pake jilbab. Kamu carinya kan yang kayak gitu,” ujarnya menegaskan.
Sore itu aku pulang dan memikirkan tawarannya dan langsung berkonsultasi dengan orang tua. Dua pekan kemudian, kuberikan jawabannya bahwa aku siap menikahinya. Adik Mas Har dan keluarganya tentu sudah tahu keadaanku. Perbedaannya ibarat langit dan bumi, mereka dari kalangan berada sementara aku hanya keluarga biasa. Jujur, aku sempat merasa minder.
Ayah Ismi (adik Mas Har) membuat kepercayaan diriku jadi tumbuh lewat pesannya padaku yang singkat. “Laki-laki harus bisa menjadi imam serta bertanggung jawab. Satu lagi, jaga anak perempuan saya,” tegas sangnya.
Meski diberi tanggung jawab yang tak ringan namun membuat hatiku serasa diguyur es, sejuk rasanya. Saat aku akan pulang, tiba-tiba Mas Har menghampiriku. Ia menyerahkan amplop tebal padaku. “Ini uang yang kamu titipkan padaku, anggap saja ini hadiah dariku. Segera jemput bidadarimu,” katanya sambil memukul pundakku ringan dan pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya.
Masya Allah, begitu kubuka amplop ternyata isinya uang sesuai ganti rugi motor yang kuberikan kepada Mas Har. Segera kuhubungi Mas Har lewat telepon tapi ia tertawa ringan. “Aku sudah bilang, itu untuk calon adikku” katanya lewat telepon.
Berkaca-kaca saat kututup telepon dan tak henti-hentinya bersyukur. Sudah nabrak orang, dikasih jodoh, dipercaya orang tuanya dan uang ganti rugiku juga dikembalikan lagi. Semalaman aku tak bisa tidur, entah senang atau bingung.
Uang senilai hampir sepuluh juta itu, sudah kuberikan sebagai mahar akad nikah, tepat sebulan sebelum Ramadhan. Kini kami sudah punya dua momongan. Insya Allah, beberapa bulan lagi akan bertambah momongan. Mas Har menikah dua tahun kemudian dan baru punya satu momongan. Alhamdulillah, kami semua hidup bahagia. Mas Har dan istrinya juga mulai tertarik dengan manhaj (kaidah) mulia ini. Hal itu menambah kebahagiaan kami. (*/feb/run)

Seperti yang dikisahkan
Rudi pada kisah muslim

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY