SHARE

METROPOLITAN.ID | BEIJING —  Wakil Menteri Komisi Kesehatan dan Keluarga Berencana Nasional (NHFPC), Wang Peian sulit untuk menyebutkan berapa lama pembatasan ukuran keluarga akan dipertahankan. “Itu adalah masalah yang harus ditangani sejalan dengan waktu,” kata dia.Wang mengatakan penuaan populasi adalah masalah global dan tren ini tidak akan terelakkan dari perkembangan masyarakat. Karena itu, masalah utama Cina bukan jumlah tenaga kerja tapi bagaimana meningkatkan kualitas tenaga kerja.”Ketidakseimbangan demograsi di Cina antara miskin dan tingkat kesuburan tinggi di kota membawa masyarakat enggan untuk memiliki anak lagi Kebijakan satu anak diperkenalkan di Cina pada akhir 1970an untuk mencegah pertumbuhan penduduk yang diluar kendali. Namun saat ini kebijakan itu dianggap ketinggalan zaman seiring dengan menyusutnya jumlah tenaga kerja. Kebijakan ini dinilai bertanggung jawab atas ketidakseimbangan usia produktif Cina.Hanya sejumlah kecil anak-anak muda dan dewasa yang produktif. Ini adalah fenomena yang biasanya muncul di negara-negara industri. Dengan penetapan kebijakan dua anak, tenaga kerja Cina bisa meningkat lebih dari 30 juta orang pada 2050 dan populasi manula akan berkurang sekitar dua persen pada 2030.Cina juga berniat untuk meningkatkan sarana dan prasarana medis untuk ibu hamil dan anak-anak seiring dengan kebijakan. Wang mengatakan otoritas telah mengadopsi alokasi yang lebih baik bagi mereka, termasuk melatih banyak doktor.Menurut NHFPC, 90 juta perempuan Cina diperbolehkan memiliki anak kedua. 60 persen diantara mereka berusia 35 tahun dan 50 persen berusia 40 tahun atau lebih. “Kebijakan baru meningkatkan perhatian terkait kehamilan di masa tua, yang terkait dengan risiko abnormalias, masalah melahirkan dan genetik,” kata dia.Sehingga Cina pelu layanan kesehatan yang lebih baik. Pemerintah juga mendesak univesitas dan sekolah medis untuk melatih dokter anak juga bidan. Bahkan ia menyeru untuk menaikan gaji mereka sehingga pekerjaan itu jadi lebih menarik(rep)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY