SHARE

METROPOLITAN.ID – Aku terisak-isak membaca surat dari mendiang suamiku. Dalam surat itu, ia menggambar sebuah kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya dan membuat beberapa usaha dari hasil deposito tersebut. Usahanya cukup berhasil meskipun dimanajeri orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orang tua dan mertuaku pergi satu per satu meninggalkanku selama-lamanya, tak satu pun meninggalkan kesedihan sedalam saat suamiku pergi.
Kini putra-putriku berusia 23 tahun yang dua hari lagi putriku akan dinikahi pemuda dari tanah seberang. Namun, ia masih bingung dengan tugas seorang istri. “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya aku nggak bisa masak dan nggak bisa nyuci. Gimana ya, bu?” tanyanya.
Aku merangkulnya sambil berkata bahwa seorang istri harus mencintai suami dengan tulus. “Cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kamu akan mendapatkan segalanya. Sebab dengan cinta, kamu akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya dan akan belajar bahwa sebesar apa pun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta,” jelasku.
“Seperti cinta Ibu untuk Ayah? Cinta itukah yang membuat Ibu tetap setia pada Ayah sampai sekarang?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. “Bukan, Sayangku. Cintailah suamimu seperti Ayah mencintai Ibu dan mencintai kalian berdua. Ibu setia pada Ayah karena cinta Ayah yang begitu besar pada Ibu dan kalian berdua,” jawabku.
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya. Namun, telah menghabiskan sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kepergiannya. Tetapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus. (*/yok/run)

Seperti Diceritakan Kislim Mizy di Kisah Sedih Islami

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY