News, Sport and Lifestyle

Data BPS dan Disdik Bertolak Belakang

METROPOLITAN.ID | CIBINONG – Tidak seimbangnya pendataan lama sekolah yang dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor menjadi polemik tersendiri. Target rata-rata lama sekolah yang ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat selama sembilan tahun belum bisa terpecahkan Disdik Kabupaten Bogor. Namun pada 2015 lalu baru terwujud 8,38 tahun.
Ketidakselarasan itu sudah lama terngiang. Disdik Kabupaten Bogor pun menyatakan pada 2018 mendatang selama 8,89 tahun mesti terkendala dengan adanya metode penerapan perhitungan Indek Pembangunan Manusia (IPM) baru di BPS.
Kepala Bagian (Kabag) Humas Disdik Kabupaten Bogor Rony Kusmaya menyarankan BPS, Bappeda serta Disdik berembuk saling mengkroscek data. Sebab, data buta huruf yang dimiliki Disdik pada 2010 tersisa hanya 40.000 dari 160.000. Sedangkan data buta huruf dari BPS 2015 malah kembali lagi ke data semula di Disdik 2010 sebesar 160.000. “Harus duduk bersama biar datanya selaras,” katanya.
Ia menambahkan, adanya data baru itu pada prinsipnya tidak menjadi masalah. Namun, BPS harus mengembalikan capaian ke nol selama tiga tahun ke depan agar tugas Disdik tidak menjadi berat. “Kalau angkanya mundur lagi, kita harus kerja dua kali lipat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik pada BPS Kabupaten Bogor Ujang Jaelani mengatakan, perhitungan baru indikatornya angka harapan lama sekolah yang mencapai 11,81 tahun. Namun, dengan pengenaan metodologi baru BPS tak lagi mengacu pada Angka Melek Huruf (AMH). “Rata-rata lama sekolah turun jadi 7,74 tahun, sebelumnya dengan metodologi lama angka rata-rata lama sekolah 8.04 tahun. Sedangkan angka harapan hidup terbaru 70,49 tahun sejak saat lahir dan sebelumnya 70 tahun,” katanya.
Jaelani menuturkan, konsep dasarnya tetap menghitung indikator pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Dengan  pengenaan metodologi baru, BPS tak lagi mengacu pada AMH. “Untuk pendidikan perhitungan yang sekarang menggunakan harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah tak lagi 15 tahun plus tetapi 25 tahun plus,” tuturnya.
Selain itu, lanjut dia, perhitungan yang baru menggunakan deret geometrik, sedangkan yang lama deret aritmatik. Yakni seperti indikatornya lebih tepat dan dapat membedakan dengan baik. Karena itu, di sini juga akan terlihat mana yang sekadar mengejar angka capaian saja dan tidak. “Capaian yang rendah pada salah satu komponen tidak dapat ditutupi capaian yang lebih tinggi, angkanya lebih realistis dengan keadaan,” ucapnya.
Untuk paket komoditas pengeluaran per kapita yang lama masih menggunakan 27 komoditas, namun kini 96 komoditas. Di antaranya seperti penggunaan pulsa, internet serta belanja online sudah bukan hal yang eksklusif lagi. Selain itu, untuk rata-rata lama sekolah diambil sample responden yang kini 25 tahun plus. (rez/b/dik/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *