SHARE

METROPOLITAN.ID | CIBINONG – Tidak turunnya tarif angkot mendapat pembelaan anggota dewan DPRD Kabupaten Bogor. Selain Bahan Bakar Minyak (BBM), komponen lain yang menjadi perhatian pengusaha angkot yakni harga suku cadang yang masih melambung.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bogor Yuyud Wahyudin mengatakan, jika BBM naik biasanya harga suku cadang ikut meroket. Namun jika BBM turun, suku cadang malah tidak ikut turun. “Kalau suku cadangnya turun, tarif angkot pasti turun,” katanya.
Ia menjelaskan, unsur BBM terhadap tarif angkot merupakan bagian paling kecil dibanding harga pokok kendaraan yang harus dikembalikan, penyusutan, pemeliharaan ditambah pembelian onderdil kendaraan. Untuk itu, pertimbangan menentukan tarif angkot tak melulu ditentukan BBM. “Bukan cuma BBM sebenarnya, ada juga aspek yang lain,” jelasnya.
Tak dimungkiri, lanjut Yuyud, jika harga BBM naik, otomatis tarifnya langsung naik dengan sendirinya dan dampaknya menguras kocek masyarakat. Namun selama penurunan harga BBM jenis premium di angka Rp350 per liter, wajar jika para sopir tidak menurunkan tarif. “Kalau dikurangi Rp50 hingga Rp200 sepertinya malah bikin ribet penumpang dan sopir,” tuturnya.
Menurut dia, pemkab dalam hal ini diwakili DLLAJ Kabupaten Bogor menetapkan tarif angkot berdasarkan jarak atau penggunaan BBM. “Tinggal pilih mau disesuaikan dengan jarak atau bahan bakar,” sarannya.
Sekadar diketahui, Dinas Lalu Lintas Angkutan dan Jalan (DLLAJ) Kabupaten Bogor sudah mengimbau agar tarif angkot diturunkan empat persen, sekitar Rp200, dari tarif sebelumnya. Namun ternyata mereka masih mengutip tarif lama. Padahal, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium turun Rp350 sejak Selasa (5/1). Kondisi tersebut pun dianggap telah mencederai hak masyarakat pengguna jasa.
Seorang penumpang angkot jurusan Citeureup-Pasar Anyar Gita Isnandar (28) mengaku masih membayar tarif seperti biasa, walaupun harga BBM sudah turun. “Saya bayar angkot sama saja, Rp5.000. Nggak kayak waktu BBM naik, tarif angkot langsung ikutan naik,” keluhnya.
Sedangkan sopir angkot jurusan 02 Cisarua–Sukasari Encep Sujana (54) mengatakan, dirinya masih menggunakan tarif lama. Jika diturunkan Rp500, ia merasa jerih payahnya mencari penumpang sia-sia. “Kalau diturunkan, saya malah nggak kebagian untungnya dong,” tuturnya.
Ia malah mempertanyakan kenapa turunnya harga BBM, tidak diikuti persediaan barang yang mencukupi. Akibat kelangkaan BBM, ia terpaksa hanya beroperasi setengah hari. “Saya kebanyakan nongkrong di pangkalan, karena nggak ada bensin,” ujarnya.(rez/b/dik/py)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY