SHARE

METROPOLITAN.ID – Nama gembong narkoba Freddy Budiman kembali menjadi sorotan. Pria yang kini mendekam di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, kabarnya bergabung dengan ISIS.
Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti mengatakan, pihaknya masih akan berkoordinasi dengan Densus 88 untuk mengecek kebenarannya. ”Itu yang menyelidiki kan dari Densus, saya akan cek ke Densus,” ujar Badrodin, kemarin.
Terkait satuan narkoba gencar melakukan razia di kampung-kampung narkoba, apakah karena demi memutus mata rantai pendanaan teroris dari narkoba, hal itu dibantah Badrodin.
”Tidak ada kaitannya. Beberapa kampung narkoba memang sudah dipetakan seperti yang terakhir di Berlan, Kampung Ambon, Kampung Bahari dan lainnya. Di sana hampir setiap bulan juga digerebek karena banyak pengguna dan bandar narkoba,” imbuhnya.
Informasi yang dihimpun, terpidana mati, Freddy Budiman diduga sudah gabung ISIS karena dipengaruhi Aman Abdurrahman (AA), orang yang dibai’at abu Bakar Al-Baghdadi, pemimpin ISIS. Disebut-sebut juga, dana pergerakan ISIS di Indonesia salah satunya bersumber dari bisnis narkoba jaringan Freddy.
Sebelumnya, Aman ditangkap di Tangerang pada 2010 karena terlibat pelatihan militer di Aceh. Dia divonis 9 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada 2010 karena terbukti membantu pelatihan militer yang digelar di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar. Aman pun mendekam di penjara Nusakambangan.
Selain itu, Densus 88 juga membawa seorang napi teroris yang selama ini mendekam di LP Kembang Kuning bernama Syaiful Anam alias Mujadid alias Brekel. Syaiful dibawa ke Jakarta karena diduga terlibat dalam kasus bom Thamrin.
Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) Jawa Tengah Molyanto mengakui jika Densus 88 telah membawa seorang napi dari LP Kembang Kuning. Karena ada dugaan yang bersangkutan terlibat dalam kasus bom Thamrin. ”Densus 88 sudah membawa napi kasus terorisme yang mendekam di LP Kembang Kuning ke Jakarta,” kata Molyanto.
Molyanto menjelaskan, pihaknya telah meningkatkan pengamanan di LP khusus napi terorisme di Nusakam­bangan yang juga melibatkan anggota kepolisian dibantu aparat TNI.
Saat membawa Syaiful dari LP Nusakambangan, Densus 88 juga menyita sejumlah telepon seluler, router penguat sinyal beserta adaptor, untaian kabel panjang dan sejumlah uang. Selain itu, pihaknya pun akan meningkatkan pengawasan pada para pembesuk, terutama pembesuk napi-napi kasus terorisme.
Sementara itu, polisi menangkap sejumlah orang yang dianggap memiliki keterkaitan dengan ledakan di Thamrin. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan ada 6 orang yang dapat ditetapkan sebagai tersangka.
”Ada 6 di antara yang ditangkap ini sudah bisa ditetapkan sebagai tersangka. Saya penetapannya belum tahu apakah sudah ditetapkan atau belum,” ujar Kapolri.  (vin/de/er/wan)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY