News, Sport and Lifestyle

Cukur Rambut Siswa, Guru Dicukur Balik Orang Tua

METROPOLITAN.ID – Se­orang guru harus berurusan dengan hukum gara-gara mencukur siswanya yang berambut gondrong. Orang tua siswa yang tidak terima lalu menggunduli balik sang guru. Duh!
Peristiwa bermula saat guru honorer SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat, Aop Saopudin, melakukan razia rambut gondrong di kelas III. Dalam razia itu didapati empat siswa yang berambut gondrong, yaitu AN, M, MR dan THS. Mendapati rambut gondrong ini, Aop kemudian menindaknya dengan memotong rambut THS dengan tidak beraturan. Sepulang sekolah, THS menceritakan hukuman itu ke orang tuanya, Iwan. Mendengar cerita anaknya, Iwan tidak terima dan mendatangi sekolah.
Iwan pun marah-marah dan mengancam Aop. Sang guru lalu dicukur balik rambutnya sebagai balasan. Tak hanya sampai di situ, Iwan juga melaporkan Aop. Mau tidak mau, ia harus berurusan dengan polisi dan jaksa.
Aop dan rekan-rekannya tak terima dan melaporkan balik Iwan. Dua kubu ini berseteru di pengadilan. Pengadilan Negeri (PN) Majalengka lalu menjatuhkan hukuman percobaan yaitu dalam waktu enam bulan setelah vonis jika tidak mengulangi perbuatan pidana, maka tidak dipenjara. Tapi jika berbuat pidana, maka langsung dipenjara selama tiga bulan. Vonis ini lalu dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Bandung pada 31 Juli 2013.
Atas vonis itu, Aop dan jaksa lalu sama-sama mengajukan kasasi. Dalam putusannya, MA membebaskan Aop dari semua dakwaan dan menyatakan apa yang dilakukan Aop tidak melanggar hukum apa pun.
Tiga hakim agung yakni Salman Luthan dengan anggota Syarifuddin dan Margono menyatakan Aop sebagai guru mempunyai tugas untuk mendisiplinkan siswa yang rambutnya sudah panjang atau gondrong untuk menertibkan para siswa.
Apa yang dilakukan terdakwa adalah sudah menjadi tugasnya dan bukan merupakan suatu tindak pidana. Terdakwa pun tidak dapat dijatuhi pidana atas perbuatan/tindakannya tersebut karena bertujuan untuk mendidik agar menjadi murid yang baik dan berdisiplin.
Lalu bagaimana dengan Iwan? Kasus itu berlanjut ke meja pengadilan. Jaksa menjerat Iwan dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan karena telah mengancam dan menggunduli sang guru.
Pengadilan Negeri (PN) Majalengka menjatuhkan hukuman kepada Iwan dengan hukuman percobaan. Iwan dilarang berbuat pidana selama enam bulan, jika masih berbuat dalam tempo tersebut maka dipidana tiga bulan.
Putusan ini lalu diperberat di tingkat banding. Pada 29 Januari 2013, Pengadilan Tinggi (PT) Bandung memerintahkan jaksa untuk menjebloskan Iwan ke penjara selama tiga bulan. Iwan tak terima dan mengajukan kasasi. Tapi karena UU menyatakan pasal yang ancamannya kurang dari satu tahun tidak bisa dikasasi, maka permohonan kasasi Iwan tidak diterima. ”Tidak menerima permohonan kasasi,” putus MA yang dikutip dari wesbitenya, kemarin. (de/er/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *