SHARE

METROPOLITAN.ID | Jakarta,Organisasi masyarakat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) kini sedang menjadi sorotan. Ternyata, ormas ini tidak pernah tercatat secara nasional di Kementerian Dalam Negeri.”Kami sudah memantau dengan baik lewat Dirjen Politik kita, bahwa di tingkat nasional itu (Gafatar) tidak terdaftar,” kata Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo di kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (12/1).Menurut Tjahjo, Gafatar sudah jelas me­nyalahi aturan. Setiap organisasi masya­rakat ataupun agama harus terdaftar di tingkat nasional, yakni di Kemendagri.Karena itu, lanjut Tjahjo, Kemen­dagri terus berkoordinasi dengan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) setempat mau­pun di seluruh Indonesia terkait per­kem­bangan organisasi ini. sebab berda­sar­kan informasi bawahannya, sudah banyak orang yang menjadi korban ormas Gafatar.”Telaah dari Dirjen kami, kalau me­mang arahnya seperti itu, itu sudah ter­larang, banyak korban,” sambung­nya.Sebelumnya, Pemko Surakarta menga­kui ormas ini pernah tercatat di Kantor Kes­bangpol setempat. Namun, Pemko Sura­karta tak memperpanjang Surat Kete­rangan Terdaftar (SKT) ormas ini karena banyaknya informasi soal penyimpangan yang dilakukan.

Minta Turun Tangan

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta pemuka agama tidak memvonis Gafatar, namun meminta pe­muka agama untuk berperan aktif mem­berikan pencera­han bagi masyarakat.”Menurut pendapat saya, harus belajar tentang agama yang lebih luas. Nanti kalau sepotong-potong menjadi seperti itu,” kata Soekarwo kepada wartawan di gedung negara Grahadi, Surabaya, Selasa (12/1).Gubernur yang biasa disapa Pakde Karwo menerangkan, Gafatar menjadi bagian di dalam dakwah parai kiai, ustaz atau pemuka agama. Karena agama apapun tidak menginginkan intoleransi.”Memang berbagai kebhinekaan itu satu fakta. Jangan kemudian kafir, haram, bitah. Janganlan digariskan haram, garisan seperti itu. Tapi semua kemanusiannya dibicarakan dengan baik,” tuturnya.Dari informasi intelijen yang diteri­manya, kata Soekarwo, Gafatar ini sudah merambah ke Surabaya hingga ke Mojo­kerto dan daerah lain.Katanya, aliran sesat sejak dulu sudah ada. Bedanya, dulu melalui media infor­masi getok tular. Sedang­kan perkemba­ngan tek­no­logi saat ini memudahkan penyebarannya melalui media sosial.”Jadi transformasi penularannya menjadi lebih luas dan cepat,” katanya.Saat ditanya apakah Gafatar ini bagian dari gerakan radikalisme? “Bukan. Kita ha­rus mengkaji. Yang Islam dikem­balikan ke Majelis Ulama. Yang Kristen dikembali­kan ke pendeta,” ujarnya.”Jadi kehidupan kita ini, jangan agama lain menafsirkan agama ini. Harus dikem­balikan ke posisinya masing-masing. Dan kita mendorong kelembagaan agama untuk aktif melakukannya,” tandasnya.(AN)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY