SHARE

METROPOLITAN.ID | Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) diminta menghentikan untuk sementara waktu pemberian subsidi untuk industri biodiesel. Alasannya, harga minyak bumi di pasar internasional yang saat ini anjlok hingga di kisaran US$ 30 per barel dinilai tidak profitable lagi apabila subsidi diberikan kepada industri biodiesel.Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin mengatakan, pemberian subsidi terhadap industri biodiesel akan profitable apabila harga minyak dunia di kisaran US$ 80 per barel. “Jangan sampai kebijakan pemberian subsidi ini menjadi insentif yang salah. Kalau harga (minyak dunia) di kisaran US$ 30 per barel seperti saat ini menurut saya tidak profitable lagi,” kata dia di Jakarta, Senin (18/1).Bustanul sangat mendukung program mandatori pencampuran biodiesel hingga 20% (B20) berjalan sesuai rencana. Namun dengan melihat kondisi harga minyak dunia yang terus melorot seperti saat ini, tak ada salahnya agar kebijakan pemberian subsidi terhadap industri biodiesel ditinjau ulang. “Kalau untuk penyaluran subsidi yang sudah dianggarkan atau ada dalam pipe line 2015 silakan dilanjutkan tidak masalah,” ungkap Bustanul.Melorotnya harga minyak dunia di kisaran US$ 30 barel per barel diprediksi menyebabkan dana subsidi bahan bakar nabati untuk program mandatori B20 membengkak. Saat ini, BPDP-KS mengucurkan subsidi untuk industri biodiesel Rp 3.000 per liter. Angka subsidi tersebut didapat karena pemerintah dan BPDP-KS menggunakan asumsi harga minyak mentah dunia US$ 35-40 per barel.Menurutnya, akan lebih baik apabila saat ini BPDP-KS mulai fokus pada upaya melakukan kampanye positif terhadap komoditas kelapa sawit di pasar internasional. Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia belum lama ini menjadikan citra kelapa sawit di dunia internasional makin terpuruk. Selain itu, program replanting dan riset komoditas kelapa sawit tahun ini harusnya mulai dilaksanakan. Tahun lalu, BPDP-KS memang belum bisa mengucurkan dananya untuk program replanting dan riset, karena memang lembaga ini baru terbentuk.Bustanul mengatakan, yang mendesak dilakukan saat ini adalah riset strategis yang aplikatif‎ dan pelaksanaannya melibatkan banyak stakeholder. Misalnya, riset soal peta genetika dari seluruh varietas kelapa sawit perlu segera dilakukan. Ini karena saat ini peta varietas kelapa sawit itu dikuasai Malaysia. Ironisnya, peta varietas kelapa sawit yang dikuasai Malaysia tersebut dikerjakan oleh para peneliti Indonesia. “Untuk riset ini sebaiknya dialokasikan dana 5% dari total dana yang dikumpulkan BPDP-KS,” kata dia.Sedangkan tentang replanting atau peremajaan tanaman, kata dia, dikoordinasikan oleh Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan). Tahun ini, Kementan ‎telah membuat perencanaan di mana saja lokasi yang paling mendesak untuk dilakukan replanting. “Karena itu, tahun ini harusnya program replanting ini sudah bisa dilaksanakan,” katanya.Ketua Umum Forum ‎Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB) Achmad Manggabarani memahami selama ini BPDP-KS baru mengucurkan dananya untuk subsidi ke industri biodiesel. Sebab, dari semua tugas yang diamanatkan ke lembaga ini yang paling siap didanai baru industri biodiesel. “Namun tahun ini program replanting dan riset juga sudah siap untuk didanai. Saya dengar Kementan juga telah menyiapkan lokasi di mana saja kebun sawit rakyat yang siap di-replanting,” ujar mantan Dirjen Perkebunan Kementan itu. (beritasatu.com)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY