News, Sport and Lifestyle

Harga Minyak Rendah jadi Peluang Reformasi Ekonomi Teluk

METROPOLITAN.ID | Davos – Harga minyak yang turun tajam merupakan sebuah peluang untuk mengakhiri subsidi dan memperkenalkan reformasi di wilayah yang kaya akan cadangan energi – yang menjadi sumber kehidupan perekonomian Teluk. Hal itu disampaikan oleh para menteri yang hadir dalam World Economic Forum(WEF) di Davos, Jumat (22/1).“Dengan harga yang rendah maka itu adalah waktu yang tepat untuk mengurangi subsidi pada produk-produk turunan minyak,” ujar Menteri Keuangan Kuwait Anas al-Saleh, di Davos, Swiss.Dalam sebuah pertemuan panel yang membahas masa depan reformasi ekonomi di dunia Arab, Saleh mengatakan bahwa rekor harga minyak yang rendah dapat memudahkan pencabutan subsidi produk-produk bahan bakar minyak (BBM) yang dikonsumsi konsumen.“Kami melihat ada kesempatan supaya orang-orang dapat melakukan hal yang benar, yakni membayar harga energi yang sesuai. Kita perlu memikirkan kembali tentang reformasi besar-besaran yang membuat anggaran kita bergantung pada pendapatan minyak,” ujar Menteri Energi Emirat Suhail al-Mazrouei.Mazrouei menambahkan, setelah liberalisasi harga BBM, pada Juni, Pemerintah Uni Emirat Arab sedang berusaha untuk mencabut subsidi pada produk-produk dan jasa lain, termasuk di sektor ketenagalistrikan.“Itu tidak sehat,” katanya, seraya berbicara mengenai penjualaan gas ke penyedia listrik pada tingkat hargayang disubsidi. Dia menegaskan perlu ada penetapan harga internasional.Ketua Dewan Pengembangan Ekonomi Bahrain, Khalid al-Rumaihi, bahkan melangkah lebih jauh lagi dengan menggambarkan bahwa penurunan tajam pendapatan minyak sebagai ‘berkah tersembunyi’ karena memberika peluang untuk melakukan reformasi.Dia menyebutkan reformasi fiskal dan perluasan basis ekonomi di negara-negara Teluk sebagai hasil potensial dari pendapatan minyak yang lebih rendah, yang mewakili sebagian besar penerimaan bagi kebanyakan negara-negara Teluk.Saleh berpendapat bahwa pemerintah perlu merumuskan cara untuk membantu penduduk yang membutuhkan pada saat minya rebound.“Bagaimana jika harga naik lagi? Kami harus melihat subsidi-subsidi yang rasional bagi mereka yang membutuhkan,” katanya.Berbeda dengan Kuwait dan UEA, Bahrain adalah eksportir minyak kecil di mana pemerintahannya baru-baru ini mengurangi subsidi pada solar dan bensin.Sementara itu, Pemerintah Kuwait mulai menjual solar dan minyak tanah pada harga pasar, di awal 2015, dan pada Kamis, sang emir mengumumkan rencana untuk menaikkan harga bensin, listrik, dan air.Arab Saudi, sebagai eksportir minyak terbesar di dunia, juga mengambil langkah-langkah luar biasa untuk mengurangi subsidi pada produk-produk energi. Hal ini dikarenakan mereka hanya membukukan defisit anggaran 2015 sebesar US$ 98 miliar atau setara 90 miliar euroDana Moneter Internasional (IMF) bahkan telah mendesak negara-negara monarki Teluk untuk mengurangi tagihan subsidi mereka karena pendapatan yang menyusut.(beritasatu.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *