News, Sport and Lifestyle

Harumkan Batik hingga ke Milan

METROPOLITAN.ID – Batik tradisional Indonesia berhasil memberikan inspirasi bagi Nancy Margried untuk mengembangkan batik berteknologi. Batik Fractal yang merupakan hasil inovasi Nancy dan kedua rekannya itu berhasil lolos seleksi di ajang  Committee of 10th Generative Art International Conference in Politecnico, Milan, Italia. Lewat ketekunannya menyusun paper tentang batik, warisan leluhur itu makin diakui dunia.
Kerja keras Nancy dan dua temannya Lukman dan Yun Hariadi mendapat balasan setimpal. Tak percuma selama ini mereka belajar sejarah batik hingga berhasil mendokumentasikan motif batik dari berbagai daerah di tanah air. Mulai dari  batik buketan (Pekalongan), Kangkungan (Cirebon), Parang Rusak (Yogyakarta)  hingga Banji yang telah dipengaruhi budaya Cina.
Pada 2007, penelitian mereka yang dirangkum dalam “Batik Fractal, from Traditional Art to Modern Complexity” lolos seleksi untuk dipresentasikan dalam ajang Committee of 10th Generative Art International Conference in Politecnico, di Milan, Italia. ”Sepulang dari Milan, kami bertiga ingin memperkenalkan hasil penelitian ini. Istilahnya sowan pada para pembatik,” ujar Nancy.
Dia mengakui bila tidak mudah melahirkan batik fractal dan membuatnya diterima masyarakat khususnya perajin batik tradisional. Demi mengerti teknik dan proses pembuatan batik tradisional, Nancy dan teman-temannya harus rela merogoh kocek dalam-dalam. Ia harus mengunjungi sejumlah sentra kerajinan batik di tanah air. Tak hanya di Pulau Jawa, tapi juga Sumatera, Kalimantan bahkan Nusa Tenggara pun mereka datangi demi belajar soal batik. ”Saya pelajari semua. Dari sejarah, motif hingga filosofi di belakangnya,” ujarnya.
Dari perjalanan ini, mata Nancy terbuka bahwa  batik bukanlah sekedar selembar kain (su/feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *