SHARE

Korban Malapraktik

METROPOLITAN.ID – Kematian Allya Siska Nanda (33) menyedot perhatian. Putri mantan bos PLN itu diduga menjadi korban malapraktik saat menjalani terapi tulang belakang.
Wanita yang akrab disapa Siska itu meninggal setelah menjalani terapi tulang belakang di Klinik Chiropractic First di Pondok Indah Mall (PIM) 1. Sang terapis Randall Cafferty diduga telah melakukan kesalahan prosedur dalam menangani pasiennya hingga membuat nyawa Siska melayang. Dugaan malapraktik yang merenggut nyawa putri keempat mantan petinggi PLN Alfian Helmy ini kini masih dalam penanganan polisi.
Kuasa hukum keluarga Allya, Rosita P Radjah, mengaku telah berupaya meminta tanggung jawab pihak klinik. ”Kita sudah kirim surat ke USA tempat dia bekerja dulu, tapi memang dr Randall ini bermasalah di sana. Bahkan dia pernah diskorsing tiga kali,” ujar Rosita.
Karena sudah berkirim surat dan tidak mendapat respons, pihak keluarga melapor ke polisi. Tujuan keluarga melapor ke polisi agar tak ada korban lagi seperti Siska. ”Keluarga berharap tidak ada korban lain,” ujarnya.
Rosita menceritakan, awalnya Siska mengeluhkan nyeri pa­da leher dan tulang belakangnya. Dia sempat menjalani fisioterapi atau sekadar pijat. Namun, keluhan pada bagian tulang belakang muncul lagi setelah beberapa bulan kemudian.
Pada 5 Agustus 2015, Siska mendatangi klinik terapi chiropractic di kawasan Pondok Indah yang tak jauh dari rumahnya. Siska menjalani konsultasi terlebih dahulu dan bertemu dengan terapis asing, Randall Caferty.
Setelah konsultasi itu, Siska harus menjalani terapi sebanyak 40 kali dengan membayar Rp17 juta. Namun, Siska menolak karena ia harus berangkat ke Prancis pada 18 Agustus 2015. Akhirnya, Randall menawarkan paket terapi 40 kali menjadi dilakukan dua kali sehari.
Dengan anggapan Randall adalah dokter yang ahli, Siska percaya dan menyetujui untuk menjalani terapi. Keesokan harinya (6/8/15), Siska kembali menjalani terapi dengan ditemani ibunya di sore hari. Sang ibu sempat terkejut melihat bagaimana terapi dilakukan dengan sangat singkat. “Anaknya sempat diputar lehernya sampai bunyi ’kreek’, Ibu Ida kemudian kaget. Yang dia (Ibu Ida) tahu di negara mana pun tidak ada terapi yang seperti itu,” ujarnya.
Malam harinya, sekitar pukul 23:00 WIB, Siska mengeluh sakit di leher dan akhirnya dilarikan ke UGD RS Pondok Indah. Kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada pukul 06:15 WIB keesokan harinya.
Polisi masih menyelidiki dugaan malapraktik yang mengakibatkan Siska meninggal dunia. ”Sekarang untuk membuktikan adanya malapraktik itu kan harus ada visum, apalagi kalau sampai meninggal itu harus diotopsi. Persoalannya keluarga tidak mau korban diotopsi,” jelas Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti.
Krishna mengatakan, pihaknya menerima laporan korban pada 12 Agustus 2015 atau lima hari setelah kematian korban. Polisi telah memeriksa sebelas saksi terkait kasus tersebut.
Pihaknya juga memasang garis polisi di sejumlah klinik Chiropractic yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan. ”Kami memasang police line di klinik tersebut. Termasuk di pusat perbelanjaan lainnya,” ujar Krisna. (de/kps/feb/wan)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY