SHARE

METROPOLITAN.ID | SUKABUMI — Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) mengungkapkan, hampir semua produk daging unggas lokal di toko ritel modern tidak sehat. Ini didasarkan pada pantuan yang dilakukan Himpuli terhadap sejumlah ritel di Indonesia. Menurut Ketua DPP Himpuli Ade Meirizal Zulkarnain, jika merujuk pada Pasal 58 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, hewan yang diproduksi atau diedarkan ke wilayah Indonesia wajib disertai sertifikat sehat dan sertifikat halal. ”Namun, hampir semua produk unggas ayam lokal di pasar modern tidak dilengkapi kedua dokumen tersebut. Jadi, bisa dikatakan tidak memenuhi standar halal dan sehat,” kata Ade kepada Republika, Ahad (10/1). Pernyataan Ade mengenai kasus ini tak hanya ia lontarkan kali ini saja, tetapi juga pada tahun 2015 dan 2014. Pada 2014, Ade menyatakan, sejak 2011, tim Himpuli berangkat ke sejumlah kota untuk menelisik produk daging ayam di pasar-pasar swalayan. Kota yang menjadi sasaran adalah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Bandung, Surabaya, dan Makassar, yang dikenal sebagai kota dengan konsumsi daging ayam lokal terbesar. Tim menemukan, 90 persen daging ayam lokal tak bersertifikat halal. Ini berarti tata cara pemotongan dan pendistribusian ke pasar swalayan rentan lolos dari standar halal dan kesehatan. Keadaan ini berlangsung sejak 2011 hingga 2014. Meski pada 2013 ditemukan perubahan, perubahan itu tak signifikan. Saat itu, tim Himpuli menemukan satu produk ayam lokal yang mencantumkan logo halal.  Sayangnya, perusahaan produk tersebut belum mencantumkan nomor registrasi halalnya sehingga status kehalalannya pun masih dipertanyakan. Padahal, konsumsi ayam lokal di kawasan Jabodetabek dalam sehari mencapai 4 juta ekor per bulan. Pemasok daging ayam kebanyakan dari daerah Bogor dan Tangerang. Secara keseluruhan, rata-rata permintaan daging ayam sebanyak 20 juta ekor per bulan. Kemarin, Ade mengatakan, Himpuli pada September 2015 telah mengirimkan surat ke Bareskrim Polri untuk menindaklanjuti peredaran daging ayam lokal yang tak layak tersebut. Dalam surat itu Himpuli menyebut perlu ada tindakan tegas untuk melindungi konsumen. Dalam Undang-Undang Peternakan, pelaku pelanggaran dapat diberi sanksi berupa hukuman dua hingga lima tahun penjara. Selain itu, ada ancaman denda mulai dari Rp 150 juta hingga Rp 1,5 miliar. ”Kami juga sudah berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Kami berharap mereka juga bisa ikut serta menangani permasalahan ini,” kata Ade. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengaku heran dengan pernyataan Himpuli. Menurut dia, kalau memang ada pasar swalayan yang menjual daging ayam tak sehat, seharusnya Himpuli yang disalahkan. “Kami kan membeli daging ayam dari mereka, dari anggota-anggota perkumpulan mereka yang menjadi supplier, seharusnya mereka yang instropeksi diri,” kata Tutum kepada Republika, kemarin. Tutum menegaskan, pengusaha ritel hanya pedagang yang membeli barang atau bahan pokok dari para produsen. Oleh karena itu, ihwal sehat atau tidaknya suatu barang dan bahan pokok  menjadi tanggung jawab produsen. “Kalau mau diuber, harusnya yang diuber anggota mereka. Kami hanya menjual,” ujar Tutum. Mengenai sertifikasi produk, ia menyatakan, Aprindo sudah memenuhi segala persyaratan. ”Kalau mau sweeping, silakan. Kami tidak masalah.”

Hypermart menjamin
Sementara itu, pengelola ritel modern Hypermart di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,  menjamin kehalalan produk ayam yang dijual di gerainya. Sebab, seluruh daging ayam yang dipasok berasal dari pemasok resmi yang terpercaya. “Kami memasok daging ayam dari supplier berizin dan jelas menjamin kehalalan produk,” ungkap Department Manager Hypermart Sentul Andi Wicaksono, Ahad (10/1). Disampaikan Andi, Hypermart memang tidak bersinggungan langsung dengan rumah potong ayam atau rumah potong unggas. Namun, Hypermart memastikan pihaknya memasok daging ayam dari pemasok berintegritas. Andi juga menjamin standar tinggi terhadap 200-300 kilogram daging ayam yang diterima Hypermart setiap harinya. Sejak pengiriman, pemilihan  barang, hingga saat daging dipamerkan, semua dilakukan di suhu dingin tertentu agar kualitas daging ayam terjaga. Disampaikan Andi, Hypermart menerima produk segar seperti daging ayam, ikan, buah, dan sayur, pada pukul 06.00 WIB. Mobil jasa antar yang digunakan untuk pengiriman produk ayam menggunakan pendingin khusus. Sesampainya di loading dock, lanjutnya, bagian ekspedisi menerima barang dengan tembak suhu. Apabila tidak memenuhi kriteria, Hypermart akan mengembalikan produk tersebut. “Langsung masuk ke area chiller atau freezer sampai area penjualan. Semua pakai suhu standar. Saya rasa tidak ada masalah,” ujar Andi. Corporote Communication General Manager  Transmart Carrefour Satria Hamid menjamin, semua produk yang dijual perusahaannya memenuhi standar kesehatan dan juga kehalalan.”Kami melakukan verifikasi dengan ketat terhadap pemasok.” Untuk produk daging ayam misalnya, jelas dia, Carrefour bekerja sama dengan rumah potong yang telah tersertifikasi. Semua pemasok sudah memenuhi syarat rumah pemotongan ayam bersertifikat. Pertama adalah Nomor Kontrol Veterinier atau semacam nomor izin dari Kementerian Pertanian. Kemudian juga sertifikat halal serta ayam yang akan disuplai diperiksa oleh dokter hewan dan melalui uji laboratorium. Jadi, tegas dia, Carrefour betul-betul mengontrol spesifikasi, standarisasi produk dan kontrol rantai distribusi produk mulai dari barang diterima sampai terjual di toko. “Sehingga kami menjamin tata niaga dan distribusinya sesuai syariat.”satria kartika yudha. (rep)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY