Hore… Tarif Listrik Turun Lagi Februari

by -2 views

METROPOLITAN.ID – Kabar baik bagi masyarakat pengguna listrik. Februari 2016, PT PLN (Persero) kembali menurunkan tarif listrik. Aturan ini pun berlaku bagi 12 golongan pelanggan yang tidak disubsidi.
Manager Senior Public Relation PLN Agung Murdifi mengatakan, perhitungan pe­nurunan tarif untuk Februari 2016 ini akan dilakukan menggunakan tiga indikator makro ekonomi, yaitu inflasi, kurs rupiah dan harga minyak dunia pada Desember 2015.
Terkait hal itu, Agung belum bisa menyebutkan besaran penurunan tarif listrik bulan depan. Besaran penurunan tarif listrik tersebut diumumkan akhir Januari 2016. ”Untuk Tariff Adjustment bulan Februari 2016 diumumkan akhir Januari 2016,” katanya.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengatakan, salah satu pembentuk tarif listrik adalah harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP), yang terus mengalami penurunan satu bulan terakhir ini.
Terkait besaran penurunan tarif, Jarman belum bisa menyebutkan. Sebab, besaran penyesuaian tarif saat ini sedang dihitung PT PLN (Persero). Perhitungan tarif listrik berdasarkan tiga parameter yaitu ICP, kurs dolar Amerika Serikat dan inflasi. ”Tapi berapanya dihitung dulu, sedang dihitung. Tergantung asumsinya ICP sama kurs, makanya berdoa ICP dan kurs turun,” jelasnya.
Tidak semua tarif listrik akan turun. Menurut Jarman, golongan pelanggan listrik yang mengalami penurunan tarif adalah yang subsidi listriknya telah dicabut dan mengalami penerapan tarif penyesuaian atau adjustment. ”Yang turun semua tidak disubsidi, semua yang tidak disubsidi akan turun,” tutup Jarman.
Rencana penurunan tarif listrik disambut baik warga Bogor. Salah satunya Winahyu yang mengatakan, dirinya sa­ngat setuju jika memang benar ada penurunan Tarif Dasar Listrik (TDL). Namun, penurunan TDL jangan sampai menurunkan kinerja dari Sumber Daya Manusia (SDM)-nya atau omzet PLN. Sebab, masih banyak daerah yang belum dialiri listrik. “Tarif turun menyenangkan masyarakat, tapi masyarakat juga harus tetap belajar menghemat listrik,” kata Winahyu kepada Metropolitan.
Senada dengan Winahyu, Rosidah (48) juga menyambut baik penurunan TDL tersebut sehingga membuat beban pengeluaran akan sedikit berkurang. Apalagi selama ini, kata dia, tagihan TDL per bulan di rumahnya cukup mahal setelah ada kenaikan TDL, meski pemakaian listrik tidak terlalu banyak. “Kalau benar turun saya senang dan semoga tagihan listrik jadi lebih kecil,” ujar Rosidah.
Sebelumnya, pada Januari 2016, PLN sudah menurunkan tarif listrik untuk 12 golongan non-subsidi, yakni tarif Rumah Tangga daya 1.300 Volt Ampere (VA) ke atas turun dari Rp1.509,38 per kilo Watt hour (kWh) pada Desember 2015, menjadi Rp1.409,16 pada Januari 2016.
Sedangkan tarif bisnis daya 6.000 VA ke atas dan kantor pemerintah daya 6.600 VA ke atas juga turun hingga Rp100,00. Selain itu, tarif industri juga mengalami penurunan tipis dari bulan lalu.
Direktur Eksekutif Institute Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa sempat mengungkap tarif listrik diprediksi kembali turun tahun ini, seiring masih berlanjutnya penurunan harga minyak dan batu bara global.
”Bisnis PLN tak lepas dengan tren harga energi. Minyak over suplai, 2016 pasokan minyak diperkirakan masih melimpah,” kata Fabby. Selain minyak, lanjut Fabby, data terbaru produksi shale oil yang menjadi alternatif minyak juga masih jauh lebih murah tahun ini. ”Dulu diperkirakan US$ 60 per barel. Terbaru shell oil di bawah US$ 40 per barel,” imbuhnya.
Fabby menjelaskan, sebagaimana minyak, harga batubara juga masih akan mengalami penurunan pasca perlambatan ekonomi China. ”Permintaan China turun drastis, mereka kurangi impor untuk coal (batubara). Permintaan naik da­ri India, tapi tak sebesar penurunan demand dari China. Maka perkiraan 2016, harga tidak jauh-jauh dari 2015,” katanya. Kalau kurs stabil dan inflasi tidak tertekan, menurut Fabbyy ada potensi tarif listrik turun lagi. Terlebih harga energi primer untuk PLN akan lebih murah tahun ini.(lip/de/er/wan)