SHARE

METROPOLITAN.ID – Keberadaan imigran gelap yang bermukim di Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, dianggap semakin meresahkan. Konflik sosial pun kerap terjadi di kawasan wisata Puncak tersebut. Selain berselisih paham dengan warga sekitar, tak jarang keributan pun terjadi antarimigran.
Bahkan, kini pencari suaka tersebut mulai terang-terangan membuka usaha. Sejumlah aturan pun dilanggar, mulai dari menikahi warga setempat hingga membuka tempat usaha.
”Di mana pengawasan Kecamatan Cisarua dan Imigrasi? Bagaimana mungkin imigran membuka usaha dibiarkan?” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) LSM  Ikatan Komunitas Kawasan Puncak dan Sekitar (IKKPAS) Jatnika kepada wartawan, kemarin.
Meskipun keberadaan imigran menjadi tanggung jawab pihak Imigrasi, lanjut dia, persoalan pencari suaka itu membuka usaha seharusnya menjadi tanggung jawab muspika setempat, khususnya camat Cisarua. Ia khawatir jika dibiarkan akan kembali menimbulkan gesekan dengan warga setempat.
”Nantinya akan timbul gesekan kembali, karena ada persaingan usaha antara masyarakat dengan mereka (imigran, red). Bahkan, beberapa waktu lalu terjadi tawuran sesama imigran,” tambahnya.
Dari hasil kajian di lapangan, Jatnika menerangkan, banyak laporan warga yang resah akibat keberadaan imigran gelap yang kebanyakan dari negara Timur Tengah. Sebab, ada perbedaan budaya dengan warga asli, sehingga menimbulkan keresahan warga. Ia mencontohkan banyak imigran yang beraktivitas pada malam hari. Sedangkan siang hari mereka beristirahat.
”Bahkan ada kasus pencurian, pelecehan dan kejahatan lain yang melibatkan para imigran. Pada September 2012 lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mengeluarkan surat protes agar Puncak tidak lagi dijadikan lokasi penampungan imigran. Tapi anehnya jumlahnya sekarang makin bertambah,” jelasnya.(hb/sal/py)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY