News, Sport and Lifestyle

‘Itu Bukan Ayah’

Duka Anak Korban Bom Sarinah

METROPOLITAN.ID – Yayah…yayah…yayah…Seorang balita Qiano Aprilia Rafasya (3) tak henti-hentinya menangis memanggil ayahnya yang telah berbalut kain kafan. Sejak jenazah sang ayah dibawa ke rumah duka di Kampung Pleret, RT 03/12, Desa Pabuaran, Kecamatan Bojonggede, Kiyano -sapaan akrabnya- terus-menerus rewel mencari ayahnya Rais Karna (37) yang kini telah meninggal, setelah ujung pelipisnya tertembak peluru saat insiden berdarah bom Sarinah, pekan lalu.
Kiyano tak henti-hentinya menangis. Ia mencari ayahnya yang biasa mengajaknya bermain. Namun, pagi itu putra dari pasangan Rais Karna dan Laili Herliana (35) itu tak melihat sosok ayahnya. Kiyano tak menyadari bila ayahnya sudah tiada.
Suhartinah (40), kerabat korban mengatakan, setiap minggu korban memang kerap membawa kedua buah hatinya bepergian keluar rumah.
Mungkin, lanjutnya, kerewelan sang anak akibat ingin diajak keluar rumah dengan sang ayah. ”Kalau minggu biasanya dua anaknya suka diajak jalan dan mungkin karena itu dia rewel juga,” kata perempuan yang kerap disapa Tinah itu.
Tinah merasa sosok Rais merupakan bapak yang baik. Kedua anaknya, Siti Atayah Ramadani (5) dan Qiano Aprilia Rasafasya, sangat dekat dengan sang ayah. Di mata keluarga, Rais yang sehari-hari bekerja jadi office boy di Bangkok Bank itu  merupakan orang baik. ”Baik dan sudah seperti keluarga sendiri kalau di sini, tidak banyak tingkah orangnya,” ucapnya.
Hingga jasad Rais dimakamkan, kedua anaknya tidak tahu bila ayahnya sudah meninggal. Padahal di ruangan seluas 5×3 meter itu ayahnya tengah didoakan keluarga dan para kerabat. ”Anak pertama dikasih tahu kalau itu ayahnya tidak percaya. Malah mengatakan bukan yayah itu mah,” akunya.
Sementara itu, adik korban, Rahmat (32), mengaku khawatir dengan kelangsungan hidup keponakannya. Dia berharap ada tanggungan dari pemerintah untuk menjamin hidup kedua keponakannya yang telah jadi korban pelaku teror bom di Sarinah. “Sehari-hari istrinya juga kerja di TMII. Anaknya dirawat  sama neneknya. Sejauh ini pihak keluarga belum menga­jukan tuntutan,” kata dia.
Dia berharap para teroris dimusnahkan sehingga tak merugikan banyak orang.  ”Musnahin saja dan dibuat tidak berkutik. Kesal saya juga si pelaku beraninya bawa pistol, kalau berantem pasti saya bantuin,” pintanya.
Sementara itu, istri Rais tidak hadir ke pemakaman karena masih kaget dengan kematian suami. Sementara adik kandung Rais, Eva, sempat pingsan di area TPU Pabuaran, Bojonggede, sehingga harus dievakuasi keluarga dari kerumunan.
Rais tewas pukul 21:21 WIB, Sabtu (16/1) di RS Abdi Waluyo setelah sempat mendapat perawatan intensif. Selain Rais, masih ada pula warga Bogor yang jadi korban teror bom di Sarinah yakni M Nurahman Permana (24)  warga  Kampung Kedungwaringin, RT 05/01, Desa Kedungwaringin, Kecamatan Bojonggede. Kondisi M Nurahman Permana (24) masih dalam penanganan di RSPAD Gator Subroto.
Sementara itu, belasan korban lainnya pasca insiden berdarah di Jalan Thamrin mendapat penangan medis di sejumlah rumah sakit. Di antaranya RSPAD Gatot Subroto (7 orang), RSUD Tarakan (1 orang), RSCM (1 orang), RS Abdi Waluyo (5 orang), RS Medika Permata Hijau (1 orang) (*lihat grafis). (rez/c/de/feb/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *