SHARE

METROPOLITAN.ID | jakarta – Sampah merupakan masalah umum di semua kota di dunia dan DKI Jakarta merupakan salah satu kota besar yang sedang mengalami masalah peningkatan volume sampah.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan DKI Jakarta merupakan kota dengan volume sampah sebesar 6.500 -7.000 ton per hari. Volume tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Eropa yang hanya menghasilkan sampah 1.500-2.000 ton per hari.

“Bayangkan sampah di DKI Jakarta dalam satu hari volumenya mencapai 7.000 ton dan jumlah itu bertambah setiap tahunnya,” kata Isnawa pada Diskusi Low Carbon Technology for Solid Waste Management, yang membahas permasalahan sampah di Indonesia serta penggunaan teknologi yang tepat dan bermanfaat bagi lingkungan di Art Hotel, Jakarta, Rabu (6/1).

Isnawa menambahkan, tingginya volume sampah tentu membutuhkan biaya yang besar untuk menanganinya, sehingga pihaknya berharap agar ada terobosan untuk solusi pengelolaan sampah seperti Intermediate Treatment Facilities (ITF) yang akan dibangun di empat tempat di Jakarta: Duri Kosambi,Cilincing, Sunter, dan Marunda.

Selain itu, dia mengatakan, penanganan sampah tidak hanya dilakukan melalui solusi ITF. Ke depannya dia mengharapkan, masyarakat DKI Jakarta harus ada kemandirian dalam penanganan karena tumpukan sampah yang dihasilkan dalam tiga hari butuh waktu seminggu untuk membersikan.

Menurutnya, saat ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi sampah, namun sejauh ini baru dalam tahap mengurangi volume, sedangkan untuk mengolah sampah yang sudah menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) belum ditemukan cara yang efektif.

Namun pemerintah tetap mencoba beberapa teknologi pengolahan sampah yang ada dengan bekerjasama dengan pihak swasta karena sampah menjadi salah satu masalah yang menghantui Jakarta dari tahun ke tahun.

Sementara itu, Widyaiswara Muda Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Budiman Richardo Saragih mengatakan pengolahan sampah yang dilakukan oleh ESDM dari hilir dan sesuai dengan kebijakan peraturan menteri (Permen) nomor 19/2013 yang mewajibkan PT PLN (Persero) mengambil langkah-langkah serta membuat kebijakan guna merangsang sektor energi terbaru dari sampah untuk pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga (PLT) sampah yang melibatkan investor.

Pemerintah telah melakukan evaluasi Permen semenjak diterbitkan dan kemudian ditetapkan dua tempat yaitu Bantar Gebang dan Surabaya untuk dijadikan PLT sampah dengan mnggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

“Kami ingin memberi kemudahan investor yang ingin mengembangkan PLT sampah dengan mengunakan APBN,” kata dia.

Dia mengaku, masalah sampah merupakan kondisi yang mendesak akhir- akhir ini dan menjadi masalah krusial karena ada beberapa kesepakatan yang harus diselesaikan. Terlepas dari itu dia menyatakan keyakinannya pemerintah DKI Jakarta dapat mengelola sampah dengan baik sehingga permasalahan sampah bisa diselesaikan dengan baik pula.(bs)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY