KAK Blok F Terlunta-lunta

by -

METROPOLITAN.ID | BOGOR – Kerangka Acuan Kerja (KAK) Blok F Pasar Kebonkembang nampaknya masih terlunta-lunta dan belum bisa di ekspos ke walikota Bogor. Hal tersebut karena KAK belum dirasa matang oleh Badan Pengawas Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ). Anggota Badan Pengawasan Suprapto mengatakan, rapat yang dilakukan direksi PD PPJ dengan walikota pada Kamis (31/12/2015) lalu bukan membahas tentang KAK Blok F, melainkan laporan akhir tahun dari direksi kepada walikota sejauh mana kinerja dan progres kerja 2015 PD PPJ. “Semua dibahas dan disampaikan tapi untuk KAK belum diekspos ke walikota karena memang belum matang,” ujar Suprapto kepada Metropolitan.
Suprapto menuturkan, KAK itu baru dirasa matang direksi namun dari Badan Pengawas masih banyak yang perlu diperbaiki karena KAK harus bersifat visioner. KAK juga harus bisa mengakomodir banyak hal tidak hanya pedagang tapi seluruh waga Bogor. Melalui revitalisasi nanti, PD PPJ ingin pasar tradisional tidak lagi terlihat kumuh dan bisa bersaing dengan pasar modern. “Blok F itu sudah tidak bisa dipertahankan lagi kenapa harus menunda sampai dua kali lebaran,” tegas Suprapto.
Sementara itu, Ketua Komisi B Teguh Rihananto mengatakan, terkait audiensi dengan pedagang blok F dirinya masih harus mengeceknya terlebih dahulu ke notulen. Karena Sekretaris Dewan yang menentukan jadwal rapat. Komisi B akan melihat permasalahan dari pedagang apa keluhannya dan bagaimana solusinya harus dikomunikasi dulu. “Kalau ada keinginan dari pedagang untuk beralih jadi PKL itu hak mereka tapi itu kan jadi turun derajat,” pungkas Teguh.
Sebelumnya, Paguyuban Pedagang Blok F Pasar Kebon Kembang, nampaknya tidak akan menyerah untuk meminta penundaan selama dua kali lebaran revitalisasi bangunan yang dihuni 178 pedagang tersebut. Selain meminta dukungan kepada anggota DPRD Kota Bogor, pedagang ternyata sedang mencoba mencari dukungan ke tokoh agama baik nasional maupun lokal.
Ketua Paguyuban Blok F Suryanto mengatakan, jika Walikota Bogor Bima Arya tidak mendengar ucapan pedagang, mungkin jika yang bicara tokoh agama bisa didengar. Karena selama ini, belum ada jawaban dari walikota terkait permohonan pedagang dan membuat pedagang terombang-ambing akibat rencana revitalisasi ini. “Walikota seharusnya bisa memberi ketenanang ke pedagang. Kami berjualan pun jadi tidak tenang,” ujar Suryanto kepada Metropolitan, kemarin.
Suryanto menuturkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor harusnya berfikir bahwa pedagang blok F ini merupakan korban dari revitalisasi sebelumnya (Blok A dan B). Karena revitalisasi itu sudah menghilangkan banyak pedagang lama. Apakah Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) sengaja ingin mengulangi hal yang sama dengan memaksakan revitalisasi disaat kondisi ekonomi pedagang tidak baik. “Jika keinginan kami untuk ditunda dua kali lebaran tidak bisa dipenuhi, kami (pedagang-red) lebih baik menjadi PKL selamanya,” tegas Suryanto. (fla/b/ram)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *