Kampung Antawis di Antara Rumah Orang Mati

by -25 views

Melongok Kehidupan di Tengah Kuburan

METROPOLITAN.ID – Jalan beraspal membelah barisan bukit hijau di sebuah pelosok Kota Bogor. Udaranya sejuk dan tenang, jauh dari keramaian kota. Pantas, perbukitan itu dipilih jadi tempat peristirahatan mendiang keluarga dari etnis Tionghoa yang kini terkenal sebagai Kompleks Pemakaman China Gunung Gadung. Di balik ribuan makam itu tersembunyi kehidupan masyarakat yang kesehariannya menaruh harapan dari batu-batu nisan sebagai penjaga kuburan.
Harian Metropolitan coba melongok kehidupan kampung yang berada di tengah kuburan itu yang berlokasi di RW 10, Kelurahan Genteng, Kecamatan Bogor Selatan. Wartawan Metropolitan menelusuri kawasan pemakaman tersebut. Berawal dari memasuki gang cukup besar yang diberi nama Gang Janur. Di sanalah gundukan kuburan berlapis batu dan keramik membentang. Luasnya yang mencapai puluhan hektare nyaris menelan lahan pemukiman pribumi.
Semakin jauh berjalan menembus jantung pemakaman, suasana terasa kian sepi. Hanya hiasan kuburan China dan asap hio yang diam membisu. Sesekali ada pula warga dan sekelompok bocah yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya. Mereka hendak menuju rumahnya usai belajar di sekolah. Sepanjang jalan mengitari bukit, akhirnya sampai pula di kampung terpencil di tengah rumah-rumah orang mati. Kampung itu diberi nama Kampung Antawis.
Jarak dari rumah ke rumah dihubungkan jalan aspal setapak yang cukup dilewati satu motor. Meski kanan-kiri rumah warga dikelilingi makam, masyarakat di sana tak pernah terganggu dengan keberadaannya. Bahkan, banyak yang mendulang pundi rupiah dengan menjadi penjaga makam.
Nama Antawis sendiri berasal dari kata awisan yang berarti warisan. Warga meyakini bila warisan yang dimaksud merupakan deretan makam China yang kini jadi tambahan penghasilan warga pribumi. Perkampungan itu terdiri dari dua Rukun Tetangga (RT) yang dihuni sedikitnya 120 Kepala Keluarga (KK). Hampir 70 persen masyarakat Kampung Antawis ikut merawat pusara yang kebanyakan punya orang-orang Tionghoa, Kristen dan Budha.
Salah satu warga yang juga Ketua RT 2, Azam mengatakan, ada sebelas hektare lahan makam yang ada di kampungnya. Warga inisiatif ambil bagian dengan memelihara kuburan itu. Jumlah makam yang dijaga pun tergantung pada kesanggupan masing-masing orang.
Rata-rata, setiap warga memegang lima sampai sepuluh makam. Ada pula yang hanya merawat dua bahkan sanggup mengurus hingga 30 makam. Soal bayaran, masing-masing dari mereka akan dapat upah kebersihan dari keluarga pemilik makam. Besarannya variatif, meski tidak banyak namun diyakini cukup membantu menambah pemasukan warga pribumi.
Biasanya, setelah perayaan Imlek banyak keluarga yang datang memberikan persembahan. Saat itulah warga kecipratan berkahnya dengan menerima angpao berisi uang. “Setahun ada yang dapat Rp5 juta sampai Rp15 juta, tergantung dari pihak keluarganya. Biasanya itu diberikan pada Agustus atau saat Imlek dan tradisi Cheng Beng,” beber lelaki yang sudah tiga periode menjabat ketua RT di Kampung Antawis ini.
Tradisi Cheng Beng bisanya dilakukan 40 hari setelah perayaan Imlek. Jatuhnya pada bulan ketiga, Maret. Di momen itulah warga setempat biasa membantu pihak keluarga mempersiapkan persembahan di tanah makam China. “Biasanya masyarakat di sini ikut bantu bakar kertas. Karena saat Cheng Beng mereka (pemilik makam, red) telah membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Jika jumlah makam yang dirawat itu terserah kesanggupan masing-masing,” sebut ayah lima anak ini.
Berdasarkan informasi warga, besaran upah jaga makam berkisar antara Rp2-Rp3 juta per tahun. Semakin banyak makam, maka semakin banyak pula rupiah yang didapat. Kadang, ada pula yang dibayar per bulan dengan nominal Rp100 ribu. Biasanya, besaran itu tergantung pada kesepakatan warga dengan pihak keluarga. Jika dihitung-hitung, jika warga memegang makam lebih dari sepuluh, maka dipastikan uang diterima juga mencapai puluhan juta rupiah setiap tahunnya.
Ketua RW 10, Manan, tak menampik bila warganya banyak yang memanfaatkan makam itu untuk mengumpulkan uang. Sebab, hampir 70 lahan di kampungnya kini sudah dipakai untuk tempat peristirahatan abadi orang-orang China. “Memang di sini (Kampung Antawis) lebih banyak makamnya daripada warganya. 70:30 lah perbandingannya. Mereka kebanyakan kerja sampingan jadi penjaga makam di sini,” ujar Manan saat ditemui Metropolitan di rumahnya.
Sebelum jadi tempat pemakaman, dulunya bukit-bukit itu merupakan lahan perkebunan dan peternakan sapi. Namun, sejak 1985 wilayahnya berubah jadi pusat pusara keluarga dari etnis Tionghoa.
Secara perlahan, rumah-rumah warga akhirnya tergeserkan. Warga tak punya pilihan selain menerima hidup bersebelahan dengan rumah orang-orang mati.  “Ya kami terima-terima saja. Mau bagaimana lagi. Ada juga warga yang kerja dengan yayasan pengelola makam. Mereka jadi kuli untuk bangun kuburan. Ada yang sudah tetap, ada yang cuma kontrak,” kata dia.
Dia mengatakan, setiap kuli bangunan kuburan biasanya dibayar Rp60 ribu per hari. Biasanya butuh waktu dua bulan untuk membuat kuburan China yang mentereng. “Kalau tukangnya dibayar Rp60 ribu, kernetnya Rp40 ribu. Satu kuburan biasa dikerjakan delapan orang. Jadi memang warga cukup terbantukan juga dengan keberadaan makam-makam itu,” tuturnya.
Manan dan seluruh warganya hanya berharap agar Pemerintah Kota Bogor tak lepas tangan dengan keberadaan Kampung Antawis menyempil di antara megahnya kuburan China. Sebab, diakuinya masih ada beberapa jalan lingkungan yang masih berupa tanah bebatuan. Beberapa wilayah juga masih kurang Penerangan Jalan Umum (PJU). “Jalan aspal ini baru, tadinya tanah batuan. Berkat swadaya masyarakat, akhirnya dibuatlah aspal. Kalau mengajukan ke pemerintah saya tidak tahu, sulit sekali. Ada juga bantuan dari dewan, gotong-royong saja,” tandasnya. (feb/wan)

Loading...