News, Sport and Lifestyle

Kampung Kubur, Lokasi Kejahatan yang Tak Pernah Lenyap

METROPOLITAN.ID | Medan – Sejak era tahun 1970-an, kampung Keling atau yang lebih dikenal dengan Kampung Kubur di Kelurahan Petisah Tengah, Kec. Medan Petisah memang dikenal sebagai syurga bagi para pemadat, serta penjudi.Bukan itu saja, di lokasi yang terletak di inti Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara ini, juga dijadikan tempat pelacuran dan beroperasi menjaring pelanggannya.Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya penduduk di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS), Babura tersebut, kini tempat pelacuran itu sudah tak ada lagi. Kendati demikian, di lokasi yang tak jauh dari bekas Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Mapoldasu) itu, berbagai jenis narkotika dengan mudah didapat.Polisi dan Komando Rayon Militer (Koramil) sudah sering melakukan razia untuk menghentikan peredaran narkoba di situ.Akan tetapi, hasilnya jauh dari apa yang diharapkan. Terakhir, Kepala Kepolisian Resort Kota (Kapolresta), Medan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto berujar akan mendirikan pos pengamanan serta menempatkan personelnya di  kampung tersebut selama 24 jam yang tujuannya untuk pemberantasan judi dan narkoba.Bukan itu saja, Pemerintah Kota (Pemko), Medan juga berencana merelokasi kawasan permukiman padat penduduk tersebut. Kebijakan Polresta Medan tersebut mendapat tanggapan serius dari pakar Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Shohibul Anshor Siregar.Shohibul mengatakan, kampung kubur adalah institusi deviatif modern yang diciptakan untuk arena pembangkangan terhadap negara dan hukum untuk tujuan perolehan uang.“Banyak institusi deviatif seperti itu di Indonesia, dan kalau aparat mau jujur bercerita, ini adalah kegagalan internal mereka,” kata Shohibul.Ketika ditanya soal tindakan aparat terkait pendirian posko penjagaan dan menempatkan sejumlah personel yang berjaga selama 24 jam penuh di kampung kubur tersebut sejak Sabtu, (9/1), kemarin,  Shohibul menyetujuinya.“Saya setuju mereka melakukan sesuatu di sana sambil bertanya “bagaimana menghadapi mutasinya dalam arti tumbuhnya arena pengganti?” kata Shohibul dengan nada bertanya.Alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini menganggap apa yang dilakukan aparat bukanlah solusi sama sekali, melainkan hanya poles-poles kecil.Jika mau serius, ayo pastikan dari mana datangnya narkoba dan siapa siapa yang mendatangkannya serta siapa yang dijadikan jaringan distribusi serta sasarannya,” tanya Shohibul.Selagi pertanyaan itu belum terjawab dengan baik, sambungnya, maka pastilah kasus kriminal akan terus terjadi seperti selama ini.“Kampanye jalan terus, razia jalan terus, begitu juga pemidanaan dan rehabilitasi jalan terus, akan tetapi sama sekali tidak ada yang berubah secara kuantitatif dan kualitatif,” katanya.Terakhir, kandidat Doktor dari Universitas Airlangga Surabaya ini mengatakan ada kegelian ketika ia membaca berita para tokoh dan ulama diundang ke sebuah tempat untuk memusnahkan barang bukti, setiap orang bertanya dalam hati, kapan ada keterbukaan data tentang berapa yang didapat dan berapa yang dimusnahkan.“Geli juga hampir setiap hari membaca berita gembong dan jaringan kejahatan trans-nasional ini dikatakan ditangkap. Gembong itu apa? Apa penjual selinting ganja atau seujung rambut bubuk narkoba? ‘Kok gak ada habisnya?” Tanya Shohibul seraya menambahkan itu berarti tak ada kejujuran dalam berkomunikasi.Akibatnya, apa yang kita terima sekarang, semua orang gagap menyaksikan tak ada yang lebih kuat dari narkoba di negeri ini. Sebelum meng akhiri, Shohibul Anshor Siregar mengajak untuk melakukan tes urine setiap hari terhadap  semua aparat selama enam bulan tanpa henti dan kita saksikan berapa orang aparat yang harus dipecat karena terlibat tindak pidana narkotika hingga secara akal sehat tak akan mampu bertugas sesuai harapan konstitusi.“Tapi percayalah, jika aparat bersih dan sungguh-sungguh, narkoba di Indonesia tuntas 100 persen dalam waktu enam bulan. ” Tandas Shohibul sembari mengatakan itulah sebabnya janji Indonesia beberapa tahun lalu tentang Indonesia bebas narkoba tahun 2015 menjadi lawak-lawak(KM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *