News, Sport and Lifestyle

Karena Narkoba Aku Terdampar di Panti (1)

METROPOLITAN.ID – Hidupku hancur berantakan, masa depanku juga suram karena narkoba dan kehidupan malam. Selama dua tahun aku bergelut dengan barang haram itu (narkoba) dan tak jarang menghabiskan harta orang tua demi menikmati kebebasan semu. Kini, dunia gemerlap membuatku terdampar di panti rehabilitasi.

Sebut saja namaku Atika, aku lahir dari keluarga berkecukupan. Ayahku seorang pengusaha tambang, sementara ibuku pejabat instansi pemerintah di kotaku. Orang tuaku yang sibuk membuatku juga mencari kesibukan sendiri, namun sayang tidak ada yang mengarahkanku sehingga kesibukan yang kujalani membuatku terperangkap ke dunia malam.
Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Secara materi kami serba berkecukupan, karena orang tuaku begitu memanjakan anak-anaknya. Semua kebutuhan kami disediakan, mulai dari kendaraan, uang saku dan fasilitas lainnya. Apa pun yang kami inginkan mengenai materi pasti dengan mudah kami dapatkan.
Orang tuaku terlalu sibuk dengan urusan mereka hingga melupakan kami, anak-anaknya yang begitu gersang dengan kasih sayang. Saat itu aku tidak paham tentang kasih sayang orang tua, yang jelas aku merasa senang-senang saja karena orang tua sangat memanjakanku.
Cobaan pertama dalam keluarga kami adalah ketika kakakku yang pertama tewas akibat over dosis putau (heroin), sementara kakak keduaku hampir tewas ditikam orang gara-gara menghamili pacarnya yang kini lari ke luar kota. Kondisiku tidak lebih baik dari mereka, aku seakan melengkapi penderitaan keluarga ketika aku mulai mengenal dunia malam.
Aku mengenal narkoba dari pacarku di kampus, hingga aku mengenal jenis-jenis narkoba lainnya. Aku benar-benar terbuai oleh narkoba, aku bisa dengan mudah mendapatkannya karena aku punya banyak uang untuk membelinya, sampai mobilku dan motor kakakku kujual untuk narkoba dan berpesta dengan teman-temanku. Semuanya kudapatkan dari pacarku sampai kesucianku kuserahkan kepadanya. Aku betul-betul lupa diri. (*/feb/run)

Seperti yang diceritakan
Atika di cerita curhat.com

Hidupku sangat bebas, pacarku berperan sebagai body guard sekaligus penyuplai narkoba. Kami menikmati semuanya tak ubah sepasang suami istri. Aku sudah jarang pulang dan lebih banyak menginap di kosan pacarku. Karena tingkat kecanduanku yang sudah sangat parah, harta pemberian orang tua pun habis kujual, namun mereka seolah berlepas tangan melihat kondisiku. Aku semakin putus asa, aku ingin menarik perhatian mereka tapi hanya pacarku yang mengerti aku.
Dua tahun aku menjalani hidup seperti itu, aku berkenalan dengan pemuda alumni pesantren yang juga masih tetangga dekat rumah. Rupanya dia sering memperhatikan tingkah lakuku selama ini.
Caranya memperhatikanku membuatku terenyuh dan menangis. Cara bicaranya pun mampu menggambarkan apa yang kurasa. Aku seperti ditempeleng dan disadarkan. Perlahan, dia memperkenalkan aku dengan Agama. Setiap kami bertemu, aku sering menanyakan banyak hal kepadanya dan apa yang dikatakannya membuatku merasa puas dan sejuk. Hatiku seperti tanah kerontang yang disirami air. Reaksiku terhadap narkoba dan kehidupan malam mulai berbalik, sedikit-sedikit aku meninggalkan kebiasaan itu.
Satu hal yang sulit kutinggalkan yaitu menahan keinginanku mencoba narkoba. Dia menyarankanku untuk direhabilitasi sebagai awal baru kehidupanku. Aku tak berpikir banyak, aku ingin terbebas dari pengaruh itu. Masuklah aku ke panti rehabilitasi, waktu itu bulan Ramadhan, setiap malam aku menangis dan menyesal memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan yang pernah kulakukan.
Kini kuhabiskan waktuku di panti rehabilitasi. Semangat hidupku mulai bangkit, cita-citaku menjadi pengusaha seperti ayahku kembali muncul. Terima kasih sobat, jasamu sangat besar bagi hidupku.
Hidupku sangat bebas, pacarku berperan sebagai body guard sekaligus penyuplaiku. Kami menikmati semuanya tak ubahnya sepasang suami istri. Aku sudah jarang pulang ke rumah dan lebih banyak menginap di kos pacarku. Bahkan karena tingkat kecanduanku yang sudah sangat parah, harta pemberian orang tuaku habis kujual. Dan anehnya bapak ibuku seolah berlepas tangan melihat kondisiku. Aku semakin putus asa, aku ingin menarik perhatian mereka tapi hanya pacarku yang mengerti aku.
Dua tahun aku menjalani hidup seperti itu, beruntungnya aku di saat-saat seperti itu aku berkenalan dengan seorang pemuda yang juga masih tetangga dekat rumah. Dia alumni pesantren, rupanya dia sering memperhatikan tingkah lakuku selama ini.
Caranya memperhatikan membuatku trenyuh dan menangis. Dia berbicara dan mampu menggambarkan apa yang kurasa. Aku seperti ditempeleng dan disadarkan. Perlahan pemuda itu memperkenalkan aku dengan banyak anjuran Agama. Setiap saat jika ada waktu kami bertemu dan aku menanyakan banyak hal kepadanya. Dan aku merasa puas, hatiku seperti tanah kerontang yang tersirami air, aku merasakan kesejukan dari setiap kata-katanya.
Reaksiku terhadap narkoba dan kehidupan malam mulai berbalik, sedikit-sedikit aku meninggalkan kebiasaan ke diskotik dan minum alkohol. Yang sulit adalah menahan keinginanku untuk mencoba obat-obatan terlarang. Temanku itu menyarankan aku masuk pusat rehabilitasi sebagai awal baru kehidupanku.
Aku tak berpikir banyak, aku ingin bebas dari pengaruh obat-obatan itu. Aku langsung masuk ke panti rehabilitasi, waktu itu bulan Ramadhan. Setiap malam aku menangis dan menyesal, aku memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan.
Kini waktuku banyak habis di panti rehabilitasi, semangat hidupku juga mulai bangkit, cita-citaku menjadi pengusaha seperti Ayahku kembali muncul. Terimakasih sobat jasamu sangat besar bagi hidupku. (*/feb)

Seperti yang diceritakan
Atika di cerita curhat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *