SHARE

METROPOLITAN.ID – Hidupku sangat bebas, pacarku berperan sebagai body guard sekaligus penyuplai narkoba. Kami menikmati semuanya tak ubah sepasang suami istri, aku pun sudah jarang pulang dan lebih banyak menginap di kosan pacarku. Karena tingkat kecanduanku sudah sangat parah, harta pemberian orang tua pun habis kujual, namun mereka seolah berlepas tangan melihat kondisiku. Aku semakin putus asa, aku ingin menarik perhatian mereka tapi hanya pacarku yang mengerti aku.

Dua tahun lamanya menjalani hidup seperti itu, beruntungnya aku dikenalkan Tuhan dengan pemuda alumni pesantren yang juga masih tetangga dekat rumah yang rupanya sering memperhatikan tingkah lakuku selama ini.
Caranya memperhatikanku membuatku terenyuh dan menangis, cara bicaranya pun mampu menggambarkan apa yang kurasa. Aku seperti ditempeleng dan disadarkan. Perlahan, dia memperkenalkan aku dengan Agama. Setiap kami bertemu, aku sering menanyakan banyak hal kepadanya dan apa yang dikatakannya membuatku merasa puas dan sejuk. Hatiku seperti tanah kerontang yang disirami air. Reaksiku terhadap narkoba dan kehidupan malam mulai berbalik, sedikit-sedikit aku meninggalkan kebiasaan itu.
Satu hal yang sulit kutinggalkan yaitu menahan keinginanku mencoba narkoba. Dia menyarankanku untuk direhabilitasi sebagai awal baru kehidupanku. Aku tak berpikir banyak, aku ingin terbebas dari pengaruh itu. Masuklah aku ke panti rehabilitasi, waktu itu bulan Ramadhan, setiap malam aku menangis dan menyesal memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan yang pernah kulakukan.
Kini kuhabiskan waktuku di panti rehabilitasi dan semangat hidupku pun mulai bangkit, cita-citaku menjadi pengusaha seperti ayahku kembali muncul. Terima kasih sobat, jasamu sangat besar bagi hidupku. (*/feb/run)

Seperti yang diceritakan
Atika di cerita curhat.com

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY