SHARE

METROPOLITAN.ID | BOGOR – Setelah melakukan audiensi dengan Komisi B pada Senin (11/1) lalu, Paguyuban Pedagang Blok F Pasar Kebonkembang kembali melakukan pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor. Hal ini dimaksudkan agar tokoh agama tersebut dapat membantu permintaan pedagang untuk meminta penundaan dua kali Lebaran ke walikota Bogor.
Ketua Paguyuban Pedagang Blok F Suryanto mengatakan, Ketua MUI Adam Ibrahim terbuka dan mengerti atas keinginan pedagang. Dirinya siap membantu untuk bertemu Walikota Bogor Bima Arya. Kemungkinan pertemuan itu akan dilakukan Minggu depan. “Belum tahu tanggal pastinya, semoga pak walikota bisa memberi kebijakan terbaiknya. Apalagi rakyatnya ini kan sedang di ekonomi sulit,” ujar Suryanto kepada Metropolitan.
Suryanto menuturkan, pada Jumat (15/1) mendatang pedagang juga akan kembali bertemu Komisi B sebagai tindak lanjut dari pertemuan pertama yang memang belum ada hasilnya. Pertemuan nanti pedagang akan membawa kartu kuning sesuai permintaan dari Komisi B.
Pedagang berharap adanya jalan tengah yang bisa diberikan Komisi B kepada pedagang. Karena notabennya pedagang bukan menentang program Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk merevitalisasi Blok F, hanya ingin meminta kelonggaran dalam segi waktu agar bisa membeli kios baru. “Kami ini ingin dibina, bukan ingin dibinasakan. Kalau direvitalisasi tahun ini juga sama saja membinasakan pedagang lama,” jelas Suryanto.
Sementara itu, Badan Pengawas Perusahaan Darah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) Suprapto mengakatan, konsep revitalisasi Blok F sudah ketemu, namun Kerangka Ancuan Kerja (KAK) masih harus digodok hingga perencanaan benar-benar matang. Menurut Suprapto, KAK sedang dikerjakan serius oleh direksi PD PPJ yang mungkin akan matang bulan ini. “Pedagang kenapa harus minta penundaan, orang bangunan sudah jelek begitu dan Hak Guna Bangunan (HGB) juga sudah habis. Kami kan ingin membangun Bogor jadi lebih baik,” pungkas Suprapto. (fla/b/ram/wan)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY