SHARE

METROPOLITAN.ID – Korps HMI Wati (KOHATI) adalah badan khusus perempuan yang terdapat dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Badan khusus ini bertujuan untuk mengkoordinir seluruh kader HMI perempuan yang bertujuan untuk menyadarkan hak-hak perempuan sebagaimana mestinya. Artinya, KOHATI mencoba meluruskan paradigma perempuan pada umumnya yang beranggapan bahwa tugas perempuan hanyalah 3M (Masak, Macak, Manak). Hal seperti ini yang menyebabkan posisi perempuan seakan-akan selalu berada dibawah laki-laki.

KOHATI hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya perempuan untuk mengubah paradigma yang demikian. Paradigma yang membuat perempuan dipandang rendah dalam hal apapun. Entah itu dalam hal pendidikan, ekonomi, maupun politik.

Dalam pelatihan kader KOHATI Cabang ciputat, yang diadakan di Graha Insan Cita, Depok, Endah Cahya Immawati (Ketum PB KOHATI 2013-2015) membenarkan hal itu. Bahwa perempuan pada umumnya cenderung lemah dalam tiga hal. Pertama, lemah dalam hal pendidikan. Sampai saat ini, presentase perempan yang berpendidikan, berada jauh dibawah laki-laki. Artinya memang doktrin “setinggi apapun pendidikan perempuan ujung-ujungnya di dapur juga” masih kuat sampai saat ini. Yang kedua adalah lemah dalam hal ekonomi. Pendapatan ekonomi per-kapita antara laki-laki dengan perempuan masih berbeda. Walaupun di kota metropolitan sudah hampir merata, tetapi hampir di tiap desa masih bisa dirasakan perbedaanya. Lagi-lagi masih ada doktrin 3M tadi. Yang ketiga adalah dalam bidang politik, dalam hal ini perempuan hanya dijadikan sebagai alat untuk mencapai kepentingan tertentu.

Lebih lanjut lagi, Endah menuturkan bahwa paradigma-paradigma yang demikian sudah mulai memudar semenjak orde baru (ORBA). Dalam hal pendidikan, presentase pendidikan perempuan mulai bertambah. Dalam hal ekonomi, perempuan sudah bisa menghasilkan penghasilan yang sama dengan laki-laki. Khususnya di kota-kota besar. Dalam bidang politik, perempuan yang awalnya hanya beberapa yang masuk dalam kabinet, sekarang sudah mulai bertambah banyak. Dan pada tahun 2001, perempuan menjadi pemimpin negara Indonesia yang pertama kali . Tetapi hal ini masih dikatakan minim jika dibandingkan dengan laki-laki. Pungkasnya.

Oleh karenanya dibentuknya KOHATI tak lain dan tak bukan, mencoba untuk membuat suatu gerakan yang memang benar-benar khusus untuk perempuan, guna terciptanya perempuan yang tidak berfikiran dangkal. Artinya, perempuan yang bersih dari doktrin-doktrin yang merendahkan martabat perempuan. Tetapi menciptakan perempuan yang menyerukan hak nya sebagai manusia yang kaffah, manusia yang merdeka di muka bumi. Hal inilah yang diemban KOHATI demi terciptanya perempuan yang bermartabat dalam segala hal.

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY