SHARE

METROPOLITAN.ID – Keberadaan film Islami saat ini menjadi media dakwah yang sangat tepat menyasar semua kalangan masyarakat. Hal ini juga tentu menjadi angin segar di tengah masih banyaknya film Indonesia yang kurang mendidik. Namun, apa jadinya jika film bergenre Islami ini malah diboikot dan dihentikan peredarannya. Hal inilah yang kemudian menggerakkan sekelompok pemuda untuk membentuk Komunitas Pecinta Film Islami.
Diberhentikannya film 3 Alif Lam Mim di bioskop pada 7 Oktober 2015, malah melahirkan Komunitas Pecinta Film Islami (Kopfi) sebagai bentuk inisiatif agar film Islami ini bisa kembali ditayangkan. Para penggerak ini pun mencoba melobi bioskop untuk bersedia menayangkan kembali dengan syarat full satu studio. Sehingga demi menggandeng massa yang banyak dibentuklah komunitas ini melalui media chat WhatsApp.
Melalui WhatsApp-lah antusiasme masyarakat mencuat luar biasa dan berhasil mendapatkan 875 orang yang ingin menonton film 3 Alif, Lam Mim. Dari itu pula info tentang Kopfi tersebar luas yang awalnya di Yogya merambah ke 24 kota atau kabupaten di Indonesia, salah satunya Bogor. Tak hanya dari masyarakat, para artis, produser, penulis, desainer hingga anggota dewan turut mendukung adanya Kopfi.
Ketua Kopfi Chapter Bogor M Maulana mengatakan, setelah berhasil menanyangan Alif Lam Mim, komunitas ini mendapat tawaran kerja sama resmi dari film Islami lainnya. Sebut saja Bulan Tenggelam di Langit Amerika, Tausyiah Cinta dan Ketika Mas Gagah Pergi. Bahkan ke depan Kopfi akan meluaskan jaringannya dengan terus mendukung film-film Islami. “Sayang kan film Islam yang mengandung makna bagus tapi tidak bisa bertahan lama di bioskop,” ujar Maulana kepada Metropolitan.
Meski terbilang komunitas baru, Kopfi mempunyai mim­pi dan tujuan yang ingin diraih, yakni menjadi distributor atau jembatan antara production house dengan penonton, menjadi driver, promotor dan distributor bagi tujuan tren positif lewat tontonan bermutu, ajang dakwah media dengan menggandeng media partner, comunity partner dan sponsorship, dakwah sosial dengan mengadakan nobar di daerah bersama anak jalanan. “Kami ingin tidak ada lagi film Islami yang diboikot atau kurang peminatnya. Karena film-film itu jadi jalan dakwah juga,” pungkas Maulana. (fla/b/ram)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY