News, Sport and Lifestyle

Lebih Bermakna dengan Rumah Belajar Terapung

METROPOLITAN.ID | Ada banyak sisi lain di luar kehidupan kita. Iie Sri Rejeki menemukannya setelah aktif mengikuti program sosial yang digagas perusahaannya, salah satunya Rumah Belajar Terapung. “Sebelumnya kehidupan saya, ya bekerja dan bekerja. Tetapi setelah bergabung di Standard Chartered Bank, saya menemukan sisi lain bahwa hidup kita bisa lebih bermakna dengan membantu orang lain,” ungkap Iie di sela-sela penutupan program “Seeing is Believing” di Jakarta, akhir Desember 2015. Perusahaan tempat Iie bekerja memang memiliki program corporate social responsibility (CSR/tanggung jawab sosial perusahaan). Uniknya, program ini wajib melibatkan setiap karyawan selama tiga hari dalam setahun untuk ikut terjun langsung membantu masyarakat sekitar. “Yang paling berkesan adalah waktu saya ikut program pemberdayaan sebuah kampung di Kapuk, Jakarta Utara. Daerah tersebut sering terendam banjir. Nah, kami buatkan jembatan aspal untuk menggantikan jembatan kayu,” cerita Iie. Tak cuma itu, yang lebih berkesan lagi adalah ketika Iie dan teman-temannya membuat Rumah Belajar Terapung untuk anak-anak di kampung Kapuk tersebut. “Kalau banjir datang, rumah mereka kan terendam. Anak-anak jadi enggak bisa belajar. Nah, kami buatkan Rumah Belajar Terapung supaya kalau terjadi banjir, anak-anak tetap bisa belajar,” kisah Iie. Di Rumah Belajar Terapung, anak-anak bisa belajar banyak. Mereka belajar komputer, matematika, hingga bahasa Inggris. “Senang sekali bisa mengajari mereka banyak hal,” ungkap Iie. Kini, kegiatan di Rumah Belajar Terapung diteruskan oleh komunitas di sana dengan seorang koordinator. “Tempat itu juga jadi tempat diskusi warga. Jadi bukan cuma anak-anak yang pakai,” jelas Iie. Sementara untuk para orangtua, Iie dan timnya juga mengajarkan beternak lele di atas terpal. “Lele kini juga jadi sumber penghidupan mereka,” ujarnya.

Cegah Kebutaan Anak
Tahun ini, kegiatan Iie di CSR akan makin sibuk setelah perusahaannya mencanangkan program “Child Blindness Program” (CBP) demi mencegah kebutaan pada anak-anak Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Standard Chartered Bank siap mengucurkan dana sebesar US$5 juta untuk program CBP. “Dana US$5 juta itu untuk program pencegahan kebutaan anak selama lima tahun ke depan,” kata Iie. Mengutip Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan, Kartini Rustandi, program CBP sangat penting mengingat 1,4 persen penduduk Indonesia mengalami kebutaan dan 7,4 persen anak-anak sekolah mengalami kelainan refraksi mata. Untuk awal, program CBP, tambah Iie Sri Rejeki, akan dilaksanakan di sejumlah wilayah, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat. “Sesuai riset dari Kementerian Kesehatan, daerah-daerah tersebut paling tinggi kasus kelainan matanya,” kata Iie. Dana tersebut, secara bertahap akan dikucurkan dalam waktu lima tahun ke depan. Untuk melaksanakannya, Standard Chartered bekerja sama dengan konsorsium, antara lain Hellen Kellen International (HKI) Indonesia, Christoffel-Blinden Mission (CBM), dan Fred Hollows. Program CBP, papar Iie, dilaksanakan dalam berbagai bentuk, seperti deteksi dini kepada bayi baru lahir, termasuk bayi lahir prematur, perawatan pengobatan dan pemberian kacamata gratis, capacity building untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan mata, hingga pemberian alat screening ke rumah sakit. “Deteksi dini sangat penting, terlebih pada bayi lahir prematur karena berisiko lebih tinggi mengalami kelainan mata pada saat mereka dewasa nanti, seperti katarak dan lain-lain,” papar Iie. Sebelum program CBP, Standard Chartered sejak 2009-2015 sudah melaksanakan program “Seeing is Believing” (SiB). Program ini hanya dilaksanakan di DKI Jakarta, berupa pemeriksaan kerusakan penglihatan (refractive error) dan pemberian kacamata gratis kepada pelajar SD dan SMP. “Dari 90.000 yang di-screening, ternyata 20.000 anak menderita kelainan refraksi mata, sehingga harus memakai kacamata, dan mereka kami beri gratis kacamata,” tandas Iie.(bs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *