SHARE

METROPOLITAN.ID | BOGOR – Tim pemasaran Apartemen Grand Park City Pakuan (GPCP) Bogor ternyata membidik mashasiswa/i Universitas Pakuan (Unpak) sebagai pangsa pasarnya. Bahkan pihak pengembang apartemen pun memberi harga spesial bagi para mahasiswa yang membeli di awal tahun ini.
Namun, sayangnya hal tersebut ditanggapi dingin sejumlah mahasiswa Unpak. Salah seorangnya bernama Angga Taufik Hidayat (22) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Unpak Bogor. Angga mengaku enggan membeli apartemen itu karena dianggap terlalu mahal. Untuk tataran mahasiswa, kata Angga, harga apartemen yang ditawarkan sangat tinggi. Jika sudah begitu, Angga pun menuturkan, lebih baik membeli rumah daripada harus membeli apartemen.
Membidik mahasiswa sebagai calon pembeli apartemen, menurut Angga merupakan strategi yang salah. Karena menurut dia, kondisi keuangan mahasiswa sangat terbatas. “Untuk bayar kosan saja terkadang banyak mahasiswa yang nunggak, apalagi untuk membeli apartemen yang sampai ratusan juta,” terangnya.
Rencana pembangunan Apartemen GPCP Bogor pun ditolak Angga dan rekan-rekannya yang lain. Hal itu lantaran pembangunan apartemen sangat tidak strategis. Sebab, kata Angga, jalan menuju apartemen sangat sempit sehingga bakal berpotensi terjadi kemacetan di depan kampusnya tersebut. “Tidak ada apartemen di depan kampus sudah macet karena jalan yang sempit, apalagi ada apartemen pasti tambah macet,” paparnya.
Angga juga sangat menyayangkan dengan adanya pembongkaran sejumlah pedagang yang berada di sekitar kampusnya tersebut. Karena menurut dia, para pedagang yang berada di sekitar kampus sangat membantu kebutuhan mahasiswa, misalnya fotokopian depan kampus sangat murah serta beberapa tempat makan pun sangat membantu. Karena sesuai kantong mahasiswa. “Adanya apartemen tenyata bikin susah mahasiswa. Saya dan rekan-rekan mahasiswa lain kecewa atas hal itu akan memboikot pembelian apartemen tersebut,” katannya.
Sementara itu, pihak dari manajemen GPCP Bogor Amir menyatakan, memang target pemasaran apartemen ini mahasiswa yang tinggal di kos-kosan. “Beberapa unit apartemen pun bisa saja disewakan tiak harus dibeli. Karena yang sewa ini berjangka sampai beberap tahun saja,” katanya.
Namun saat ditanya berapa jumlah apartemen yang sudah terjual, Amir tidak mengetahuinya. Karena menurutnya data tersebut ada di bidang pemasaran apartemen. “Sudah ada beberapa apartemen yang terjual, namun untuk data pasti saya tidak tahu karena datanya tidak ada di saya,” pungkasnya.
Sebelumnya, meski rencana pembangunan Apartemen Grand Park City Pakuan (GPCP) Bogor masih menjadi pro-kontra, ternyata penjualan perdana apartemen ini sudah dimulai pada 25 April 2015 lalu. Dalam kurun waktu kurang lebih 20 hari, unit studio view pool pun sudah habis terjual. Hal itu terekan dalam website http://apartemen-gardenia.blogspot.co.id/2015/01/grand-park-city-pakuan-nup.html yang mengupas perjalanan hunian di bawah pengembang Gapura Prima Group itu.
Dalam website itu, tertulis jika Apartemen Grand Park City Pakuan Bogor bakal menggarap pangsa pasar 25 ribu sampai 30 ribu mahasiswa/i Universitas Pakuan Bogor. Nantinya apartemen itu dibangun tiga tower (Griffith Park Tower I, Orchard Park Tower II dan Phoenix Park Tower III) dengan ketinggian 21 lantai dan diisi total 491 unit. (mam/b/ram/wan)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY