News, Sport and Lifestyle

Marco Kartodikromo dan Syair Sama Rata Sama Rasa

METROPOLITAN.ID | SAMA RATA SAMA RASA merupakan ungkapan yang sangat populer di Indonesia. Ungkapan ini biasa digunakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menafsirkan tujuan politiknya sendiri pada 1920-an.Tetapi tahukah anda siapa orang yang pertama kali menulis syair itu? Dialah Mas Marco Kartodikromo, seorang jurnalis yang sangat ditakuti oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Seperti apa kisahnya?Banyak orang berpendapat bahwa syair Sama Rata Sama Rasa yang ditulis Mas Marco adalah kepunyaan PKI dan kaum komunis. Padahal tidak demikian, karena syair ini berisi ungkapan realita sosial saat itu.  Apalagi syair Sama Rata Sama Rasa ditulis saat PKI masih dalam rahim. Syair ini ditulis oleh Mas Marco saat berada dalam penjara kolonial dan dipublikasikan pertama kali dalam Sinar Djawa pada 10 April 1918.Pandangan yang mengatakan syair itu milik PKI dan bukan rakyat Indonesia berasal dari Kolonial Hindia Belanda yang diteruskan oleh rezim Orde Baru untuk menggelapkan sejarah perjuangan rakyatnya.Seperti diketahui, sejak cultuurstelsel diberlakukan dan berakhir pada 1830-1870, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membuka keran liberalisme melalui masuknya modal asing dalam agrarische wet.Dengan masuknya modal asing itu, penderitaan rakyat semakin bertambah parah. Kemiskinan merajalela, angka kriminalitas menjadi sangat tinggi, dan konflik perburuhan kian meruncing tidak berkesudahan.Tanah petani yang lama terbengkalai akibat sistem cultuurstelsel, disewa dengan sangat murah melalui berbagai paksaan untuk dijadikan pabrik tebu. Hal ini menyulut berbagai pemberontakan para petani.Guru Besar Sejarah dan Studi Asia Universitas Cornell dan Center for Southeast Asian Studies Universitas Kyoto Takashi Shiraishi menyebut periode yang penuh dengan gejolak itu sebagai masa zaman bergerak.Pada masa itu, hanya keluarga dari kalangan priyayi sajalah yang bisa mengenyam pendidikan. Mas Marco Kartodikromo yang lahir di Cepu, pada 1890 termasuk yang sangat beruntung berasal dari keluarga itu.Mas Marco lulus sekolah bumiputera Angka Dua di Bojonegoro dan sekolah swasta bumiputera Belanda di Purworejo. Sebelum terjun ke dunia pergerakan, dia menjadi juru tulis di Dinas Kehutanan pada 1905.Tidak lama kemudian, dia pindah ke Semarang dan menjadi juru tulis di NIS sambil belajar bahasa Belanda dari seorang Belanda secara privat. Pada 1911, dia meninggalkan Semarang dan pindah ke Bandung.
Di Bandung, Marco bergabung dengan Medan Prijaji sebagai wartawan magang. Dari sinilah karir Mas Marco sebagai jurnalis dimulai. Di bawah bimbingan Tirtoadhisoerjo, Marco menjadi jurnalis tangguh.Selain berguru dengan Tirtoadhisoerjo, selama berada di Bandung Mas Marco juga berguru kepada Soewardi. Namun demikian, dia selalu berusaha keluar dari bayangan kedua gurunya dengan pindah ke Surakarta.Di tempat barunya ini, Marco mendirikan perkumpulan wartawan yang pertama di Indonesia, yakni Inlandsche Journalistenbond (IJB) pada 1914 dan menerbitkan surat kabarnya sendiri dengan nama Doenia Bergerak.
Kehadiran surat kabar IJB Doenia Bergerak, semakin mewarnai dunia pergerakan saat itu. Setahun sebelumnya, pada 1913, seorang komunis dari Belanda Sneevliet tiba di Indonesia dan menetap di Surabaya.(SN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *