MEMBENTUK SISWA BERILMU DAN BERAKHLAK MULIA

by -13 views

METROPOLITAN.ID | Menurutnya, berdasarkan pengalaman, tugas ini sering kali diabaikan. Guru pada umumnya hanya bertugas sebagai seorang pengajar saja. Hal ini terjadi, karena masih diberlakukannya ketentuan yang mengharuskan siswa mengikuti ujian nasional, sehingga kebanyakan guru hanya mengejar target kurikulum dan mempersiapkan siswanya agar lulus dalam ujian nasional,” kata Dasiyo Priambodo kepada Gersum, Rabu (13/01) di ruang kerjanya.Lanjut Dasiyo, begitu siswa lulus dalam ujian, maka dikatakan guru telah berhasil mengantarkan siswanya ke jenjang berikutnya. Sebaliknya, apabila siswanya gagal maka masyarakat mencapnya sebagai guru yang gagal pula. “Oleh karena itu, guru berusaha dengan sungguh-sungguh memberikan pengajaran dan pembelajaran yang memungkinkan siswanya menjadi terlatih dan bisa dalam ujian kelak. Hal ini yang menyebabkan guru terkadang lupa tugasnya yang lain, yaitu sebagai pendidik.Siswa seharusnya tidak hanya sekedar diberi pengajaran agar bisa dan menjadi berilmu, tetapi juga menjadi siswa yang memiliki budi pekerti luhur atau watak yang baik. Pembentukkan watak atau budi pekerti luhur tercantum dalam kurikulum pendidikan Indonesia, baik yang kurikulum yang berlaku sekarang maupun kurikulum sebelumnya dengan kata kunci berupa membentuk manusia seutuhnya. Artinya pendidikan sekolah hendaknya mampu untuk memanusiakan manusia Indonesia.Masih dikatakan Dasiyo, untuk SMA Negeri 1 Kotagajah yang di pimpinnya, juga membentuk pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Menurutnya, pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat.Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi, harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Berlangsungnya proses pembelajaran, kata dia, tidak terlepas dengan lingkungan sekitar. Sesungguhnya pembelajaran tidak terbatas pada empat dinding kelas. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta lingkungan.Berdasarkan teori belajar, melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya. Buah dari proses pendidikan dan pembelajaran, akhirnya akan bermuara pada lingkungan,” ujarnya.Manfaat keberhasilan pembelajaran akan terasa manakala apa yang diperoleh dari pembelajaran dapat diaplikasikan dan diimplementasikan dalam realitas kehidupan. Inilah salah satu sisi positif yang melatarbelakangi pembelajaran dengan pendekatan lingkungan. “Adapun yang dimaksud dengan pendekatan lingkungan adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sasaran belajar, sumber belajar, dan sarana belajar.Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah lingkungan dan untuk menanamkan sikap cinta lingkungan. Hal ini adalah, salah satu misi SMA Negeri 1 Kotagajah, yakni membentuk peserta didik yang memiliki ketaqwaan kepada tuhan yang maha esa, mewujutkan pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menyenangkan. Kemudian, membentuk peserta didik yang memiliki pengetahuan dan keterampilan. Selanjutnya, mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan kejenjang pendidikan tinggi, serta mengembangkan sikap dan kepribadian yang santun kepada dewan guru, orang tua dan lingkungan pergaulan,” kata Dasiyo Priambodo(GSN)