SHARE

METROPOLITAN.ID – Manusia sering tak pandai bersyukur atas karunia rezeki yang melimpah. Padahal, Allah berjanji untuk memberi lebih jika seorang hamba pandai bersyukur. Karena itulah, Ibnul Qayyim berkata, ”Andai seorang hamba mendapat rezeki dunia dan seluruh isinya kemudian dia berkata ’alhamdulillah’, niscaya pemberian Allah padanya dengan ucapan hamdallah itu akan lebih besar dari seluruh dunia dan seisinya. Mengapa? Sebab, segala kenikmatan dunia akan berakhir, sementara pahala atas ucapan tahmid itu kekal hingga hari akhir.”
Manusia memang sering mengalami krisis keyakinan soal rezeki. Krisis itulah yang mengantarkan manusia menjadi serakah, korup, manipulatif dan merampas hak-hak orang lain.
Ada tiga konsep rezeki. Rezki yang telah dijamin (rizqul makful), rezeki yang dibagikan (rizkqul maqsum) dan rezeki yang dijanjikan (rizqul maw’ud). Konsep rezeki pertama seperti udara yang kita hirup, angin yang berembus dan kenikmatan lainnya yang Allah berikan tanpa usaha manusia.
Pada dua konsep rezeki lainnya, manusia harus berusaha, tentu dengan cara yang halal. Itulah sebabnya Rasulullah SAW berkata, ”Mencari rezeki yang halal adalah (bersifat) wajib setelah kewajiban agama (seperti salat dan puasa).”
Setelah segala kenikmatan rezeki diperoleh, manusia seharusnya berbagi. Nasihat ringkas Ibnul Qayyim menarik untuk dikutip. Ia berkata, ”Boleh jadi saat kau tertidur lelap, pintu-pintu langit tengah diketuk oleh puluhan doa: dari orang miskin yang kau tolong, dari orang lapar yang kau beri makan, dari orang yang sedih dan telah kau hidupi, dari orang yang berjumpa denganmu dan kau berikan senyum. Karena itu, jangan pernah meremehkan amal-amal kebaikan.” (rep/er/wan)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY