SHARE

METROPOLITAN.ID | Sebut saja, misalnya CNN International, ABC News, BBC World, Xinhua, semua live report, ditambah dengan portal news yang real time news up date.Tetapi, tak lebih dari 224 jam, berita-berita terorisme itu mulai meredup. Kalau masih ada running news, tidak sampai membuat paranoid orang yang hendak traveling ke Jakarta dan Indonesia.”H+3 suasana betul-betul sudah kembali normal, seperti tidak terjadi apa-apa lagi. Bahkan pos polisi itu sudah ditutup dengan tulisan #IndonesiaBerani #IndonesiaDamai di atas bahan vinil merah putih,” kata Menpar Arief Yahya, di Jakarta, Senin (18/1/2016).Padahal insiden yang dibungkus dengan isu teror, apalagi ada embel-embel bom, lalu disiarkan dengan gencar melalui berbagai channel, itu ‘daya rusak’-nya sangat tinggi. Apalagi terus menerus menjadi bahan trending topic di Twitter dan bahan obrolan di Facebook. Para pelaku bisnis pariwisata sudah tepuk jidat, isyarat bakal paceklik datang.”Tapi rupanya itu semua tidak terjadi! Badai cepat berlalu, jika tertangani dengan cepat dan tepat,” ujar Arief.Menurut Arief ada tiga hal yang harus diantisipasi terkait serangan teror tersebut. Pertama adalah langkah Emergency (E) atau istilah umumnya darurat, lalu Urgency (U) atau sifatnya mendesak, harus disegerakan, dan Contingency (C) atau tanggap.Arief menambahkan, di Kemenpar pihaknya mengkombinasi dari berbagai sumber penangan crisis, terutama di sektor pariwisata.”Ada tiga tahapan tim crisis center bergerak. Pertama, tahap Emergensi. Kedua, tahap Rehabilitasi. Ketiga, tahap Normalisasi,” jelas pria bergelar Doktor Ekonomi lulusan Unpad Bandung itu.”Emergency itu dimulai persis ketika kejadian itu berlangsung, 14 Januari. Hingga 16 Januari masa tanggap darurat itu berlangsung. Ada tiga level lagi khusus untuk tanggap darurat itu. Pertama immediate respons, atau merespons dengan cepat. Seperti asessment on impact, apa penyebab krisis, kontak emergency respons team, bisa polisi atau lembaga yabg terkait, lalu inmediate media respons,” jelas Arief Yahya.Memberikan keterangan pers, masuk dalam poin ketiga dari immediate reapons ini. Keterangan pers menurutnya penting untuk menjelaskan kepada publik, pelaku bisnis dan industri yang berada di dalam koordinasinya, untuk memberi koridor dan arah. Ada pegangan yang bisa dipercaya publik dan kredibel untuk memberikan penjelasan resmi.
Mengapa itu mendesak? Keterangan cepat itu akan menenangkan publik, sehingga mereka bisa memutuskan sesuatu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.”Dalam kasus Thamrin lalu, kami menyampaikan bahwa polisi telah melakukan penanganan, dan dalam 5 jam sudah terkendali dengan baik. Statemen ini membuat industri pariwisata merasa lega, aman dan tidak was was,” paparnya.Langkah emergency selanjutnya, kata dia, adalah suspense advertising. Pukul 16.00 Menpar mengumumkan, atas dasar pertimbangan etik, maka seluruh tayangan promosi Wonderful Indonesia di semua channel dihentikan dalam waktu 7 hari.”Karena Polisi berhasil membereskan situasi, maka pukul 19.00 kami mencabut penundaan promosi pariwisata itu, jadi masa hold itu cuma 3 jam saja,” jelas Marketeer of The Year 2013 ini.Selanjutnya langkah emergency adalah Assure Industry. Memastikan semua sektor yang berada di bawah kemenpar tetap beroperasi dengan normal.”Kami sudah cek 14 hotel di seputar kawasan Thamrin, semua aman. Tidak ada yg cancellation, tidak ada yang check out lebih cepat. Kami sudah sudah pantau perhotelan dan penerbangan di Bali, Batam, Jogja, semua aman,” Arief, menjelaskan.Kerusakan paling parah akibat insiden Thamrin menurut Arief adalah image pariwisata Indonesia. Itulah yang saat ini sedang direhabilitasi oleh Kemenpar. Selanjutnya pada 1-14 Februari masanya normalisasi, memastikan semua berlangsung normal seperti biasanya”Ilmu ini penting, karena krisis bisa saja terjadi di mana saja, dan kapan saja. Kita tidak pernah meminta, tapi kalau dia datang kita wajib tahu, langkap apa saja yang harus dilakukan,” ujar demikian Arief Yahya(inilah.com)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY