News, Sport and Lifestyle

Merekam Kearifan Lokal Lewat Ekspedisi Indonesia Biru

METROPOLITAN.ID | Dandhy Dwi Laksono dan “Ucok” Suparta Arz,  baru saja menyelesaikan Ekspedisi Indonesia Biru dengan berkeliling Tanah Air selama setahun dengan dua sepeda motor. “Dengan membawa cedera di lutut kiri sejak di Tentena, saya dan Ucok pulang kembali ke Pondokgede Bekasi Kamis siang,” ujar Dandhy. Di Pondokgede, tujuan akhir mereka adalah kantor WatchdoC, rumah produksi audio visual yang berdiri sejak 2009 tempat Dandhy bergiat. Sesampainya di WatchdoC, Dandhy dan Suparta Arz disambut para rekan. Hidangan yang disajikan adalah durian dan madu hutan Badui Dalam, selain rawon buntut goreng Jawa Timuran. “Kami yang selamat dari dalamnya Laut Sawu, ganasnya bus antarkota di Trans Sumatra, atau ancaman malaria Kepulauan Mentawai, mengucap syukur dengan berbagi hidangan tadi. Saya akan menulis ucapan terima kasih yang patut untuk semua yang telah membantu sepanjang perjalanan, nanti setelah duduk manis di depan laptop,” kata Dandhy pula. Oleh-oleh lain, katanya lagi, adalah sebuah website berisi hasil perjalanan (artikel, foto, video) yang telah digarap gotong-royong oleh kawan-kawan di Gorontalo dan Aceh. “Semoga menjadi pengetahuan bersama dan bermanfaat,” ujarnya lagi. Selama 365 hari, dua jurnalis WatchdoC Documentary Maker itu merekam kearifan lokal yang mewujud dalam bentuk bangunan ekonomi, hubungan sosial, dan karakter budaya yang unik di tengah masyarakat Indonesia. 1 Januari 2015, Dandhy  (39) dan Ucok (34) memulai perjalanan mereka dengan dua sepeda motor bebek. Setahun kemudian, mereka  menempuh perjalanan sekitar 20.000 km menyusuri sisi selatan Pulau Jawa, Semarang, Yogyakarta, ke timur melintasi Bali, Nusa Tenggara, Timor, Papua, Kepulauan Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera menyusuri Aceh ke Mentawai dan singgah di Lampung. Selama perjalanan itu, Dandhy dan Ucok membawa beberapa kamera dan drone. Dinamakan Ekspedisi Indonesia Biru, berdasarkan konsep “Biru” yang merujuk pada ekonomi biru, pertama kali diperkenalkan Profesor Gunter Pauli pada 1994. Gunter mengajak masyarakat berhenti memikirkan globalisasi, sentralisme atau pemusatan dan penyeragaman, lalu beralih kepada pengembangan sumber daya lokal, meretas ketergantungan dan mengubah aturan main di berbagai sendi kehidupan. Salah satu karya dari perjalanan mereka adalah “Kasepuhan Ciptagelar”, film dokumentasi faktual dari Desa Ciptagelar bagian dari Kasepuhan Banten Kidul, terletak di kaki Gunung Halimun, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Kasepuhan Ciptagelar bisa disaksikan antara lain di YouTube.Permukiman cantik berlatar gunung di desa ini tidak berubah selama ratusan tahun. Bahkan, disebutkan mereka berhasil menjaga tradisi selama 600-an tahun. Hal itu terbukti lewat upacara Seren Taun yang telah digelar ke-645 kalinya. Desa ini memang punya tradisi adat yang kuat layaknya warga Badui Provinsi Banten. Mengakhiri perjalanan panjang itu, Dandhy dan Ucok pun sempat berpamitan ke Kampung Badui, warga yang pernah disinggahi dalam perjalanan  sebelumnya. Dandhy mengungkapkannya: “Kami melakukan liputan terakhir di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, dan menutup ekspedisi di mana kami memulainya 1 Januari lalu: Baduy Dalam. Di rumah ladang di luar perkampungan Cibeo, Lebak (Banten) ini, kami pamit kepada keluarga Sapri yang telah kami filmkan awal tahun lalu. Pasangan Sapri dan Saniah yang memiliki delapan anak, baru saja “kehilangan” salah satu putri mereka, Jenah (17) yang memutuskan menjadi warga Badui Luar, 10 hari sebelumnya. “Ibunya hampir menangis. Saya berusaha biasa saja. Memang rata-rata yang turun (menjadi Badui Luar) umurnya tujuh belasan sampai dua puluhan,” kata Sapri dalam bahasa Sunda. Sistem kepercayaan dan adat warga Badui Dalam adalah salah satu jantung ekonomi di Kabupaten Lebak. Dari ladang dan hutan-hutan Badui Dalam yang masih terjaga, durian atau buah-buahan lainnya, ikut menghidupi banyak warga di luar yang bekerja sebagai tengkulak atau penjual. Setiap pohon rata-rata menghasilkan 200-300 buah durian di masa panen. Keluarga Sapri sendiri memiliki sekitar 40 pohon yang mulai berbuah di tahun kelima belas sejak ditanam. Tak heran bila di musim seperti saat ini, orang-orang dari luar Baduy keluar masuk hutan dan ladang memulung durian. Sebagian lain yang memiliki modal, mendatangi keluarga Badui Dalam untuk membeli dan dijual kembali dengan margin hingga 200 persen, setelah ongkos angkut antara 1.500 – 2.000 rupiah per butir. Usai musim durian, ada musim rambutan, petai, jengkol, duku, atau nangka dan cempedak. Itu belum termasuk pisang yang berbuah sepanjang tahun. Inilah fundamental ekonomi warga Badui Dalam yang dilarang menjual padi oleh adat. Maka, dengan atau tanpa wisatawan, ekonomi Badui cukup kuat karena ditopang ekosistem atau alam yang dilindungi oleh adat dan agamanya: Sunda Wiwitan. “Melalui Badui kita belajar bahwa penciptaan lapangan kerja dan efek ekonomi, tidak hanya bisa ditimbulkan oleh investor dan modal, juga oleh sebuah komunitas adat,” tulis Dandhy. Dandhy juga telah menyatakan, setelah menyelesaikan perjalanan ini, dia bersama Ucok akan menuntaskan pembuatan video film dokumenter dari hasil penjelajahan ke seluruh Indonesia itu. “Kami juga akan buat dokumentasi foto dan tulisan serta menerbitkan buku tentang perjalanan itu,” katanya. Menurut Dandhy, selama perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru dalam setahun ini, sebanyak enam hingga tujuh film dokumenter telah dihasilkan, yaitu: “Baduy”, “The Mahuzes”, “70 Tahun Merdeka”, “Lewa di Lembata”, “Kala Benoa”, “Samin VS Semen”, dan “Kasepuhan Ciptagelar”. Mereka berdua telah merencanakan setidaknya sebanyak 20 tema film dokumenter akan dihasilkan dari perjalanan panjang itu, selain dokumentasi berupa foto dan tulisan/artikel. Setelah melakukan perjalanan panjang itu, Dandhy menyimpulkan pemerintah pusat maupun daerah kerap keliru dan salah urus di lapangan yang berdampak buruk bagi masyarakat maupun lingkungan sekitarnya. Dia mencontohkan soal pendidikan. “Sistem pendidikan kita ternyata tidak mampu mengadaptasi kondisi aktual dan lokal yang harus dihadapi setiap saat. Gagal menghadapi tantangan keseharian. Esensi pendidikan yang keliru,” ujarnya. Ekspedisi Indonesia Biru dilakukan dengan biaya hasil menabung Dandhy selama lima tahun.(analisadaily)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *