News, Sport and Lifestyle

Metamorfosa KRL, dari Zaman Hindia Belanda Hingga Sekarang

METROPOLITAN.ID | Ketika kemacetan jalanan Ibukota sudah parah seperti saat ini, kereta rel listrik (KRL) Commuterline Jabodetabek menjadi pilihan terbaik bagi para komuter –pekerja yang tinggal di kota penyangga Jakarta, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sesuai namanya KRL Commuterline Jabodetabek memang ditujukan untuk melayani para komuter, yang mampu mengangkut banyak penumpang (massal), cepat (hemat waktu), antimacet (menggunakan jalur khusus/rel), murah, dan tentu saja aman dan nyaman. Warga Jabodetabek bisa menikmati rangkaian KRL seperti yang ada saat ini setelah KRL mengalami perjalanan panjang. KRL telah mengalami metamorfosa sejak masa Hindia Belanda. KRL pertama kali digunakan untuk menghubungkan Batavia dengan Jatinegara atau Meester Cornelis pada tahun 1925. Pada waktu itu digunakan rangkaian KRL buatan Wetkspoor dan Heemaf Hengelo sebanyak 2 kereta, yang bisa disambung menjadi 4 kereta. Setelah vakum pada tahun 1960-an, KRL kembali digunakan pada tahun 1976. Pada tahun 1976, Perum Jawatan Kereta Api (PJKA) mulai mendatangkan sejumlah KRL dari Jepang. KRL Jepang generasi pertama ini disebut KRL Rheostatik. KRL yang dibuat oleh perusahaan Nippon Sharyo, Hitachi dan Kawasaki ini dijalankan sebagai KRL Ekonomi. Selain generasi pertama, ada juga KRL Rheostatik generasi ke dua, yang dibuat tahun 1986-1987. KRL AC pertama yang sudah pensiun ini sempat dioperasikan sebagai KRL Pakuan Bisnis. Berikutnya ada KRL ABB Hyundai. KRL ini dibuat atas kerja sama antara PT.Industri Kereta Api (Inka), Madiun dan Hyundai. KRL ini dirakit di PT Inka pada tahun 1985 -1992. Saat ini KRL ini sudah dikonversi menjadi KRDE yang beroperasi di jalur Surabaya – Mojokerto. Setelah Hyundai, PT Inka kembali bekerjasama merakit KRL dengan Beliga-Beland. KRL BN-Holec pertama kali dirakit pada 1994 sebanyak 120 unit, Karena sering mogok KRL ini dijadikan KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik) yang dioperasikan di berbagai kota seperti rute Yogyakarta -Solo (Prameks) dan rute Padalarang – Cicalengka (Rencang Geulis). Berikutnya adalah KRL TOEI 6000. KRL yang diimpor dari perusahaan KA milik Biro Transportasi Pemerintah Daerah Tokyo (Tōei), ini merupakan hibah dalam rangka kerjasama strategis Indonesia-Jepang saat itu. Digunakan di jalur Jabotabek mulai tahun 2000 hingga sekarang, Di antara KRL eks Jepang, ada juga dua set KRL karya anak negeri. Yakni, KRL-I Prajayana. KRL buatan PT Industri Kereta Api (Inka), Madiun pada 2001 itu tidak diproduksi lagi karena sering bermasalah dan lebih mahal biaya pembuatannya dibanding membeli KRL eks Jepang. Oleh karena itu, PT KAI mulai mendatangkan rangkaian KRL eks Jepang. Dimulai pada tahun 2004, sebanyak 16 set KRL AC masing-masing set terdiri dari 4 kereta buatan JR East, tiba di Jakarta, KRL JR East 103 tersebut langsung melayani Bojonggde, Depok, dan Tangerang. Pada 2005 didatangkan lagi beberapa set KRL Seperti KRL Tokyo Metro 5000, KRL Tokyo Rapid 1000, hingga KRL Tokyu. KRL eks Tokyu Corporation ini mulai meramaikan armada KRL Commuter Jabodetabek sejak masuknya rangkaian seri 8000 dan 8500. KRL eks Tokyu Seri 8000 dibuat pada tahun 1970-an dan KRL seri 8500 dibuat pada 1975-an dan merupakan pengembangan dari Tokyu seri 8000. Khusus untuk unit bernomor depan 07xx dan 08xx (mis. 0715 dan 0815) adalah unit yang dibuat pada tahun 1985 ke atas. KRL ini diimpor dari Jepang dengan harga sekitar Rp 800 juta per unit, atau sekitar Rp 6,5 miliar per rangkaian dengan 8 kereta. KRL Tōkyū selama ini jarang bermasalah dan masih dapat dioperasikan sampai 10 tahun mendatang di Jabodetabek. Kebijakan mendatangkan KRL eks Jepang semakin kencang ketika PT Kereta Api Indonesia (KAI) membentuk anak perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) pada 15 September 2008 dan resmi beroperasi pada 2009. KCJ dibentuk untuk lebih fokus mengelola operasional KRL demi pelayanan yang berkualitas dan menjadi bagian dari solusi permasalahan transportasi perkotaan yang semakin kompleks. Sejak 2008 hingga akhir 2013, PT KCJ melakukan program penambahan gerbong hingga total mencapai sektar 830 rangkaian KRL AC. Penambahan gerbong dilakukan untuk terus meningkatkan kapasitas angkut KRL dalam sehari. Sejumlah KRL AC yang diimpor dari Jepang adalah KRL Tokyo Metro 6000 dan 7000. TM6000 dan TM7000 ini sama seperti KRL Jepang lainnya semula akan dioperasikan dengan 10 gerbong tapi sekarang hanya 8 gerbong saja yang dioperasikan karena panjang peron di kebanyakan stasiun yang masih untuk 8 gerbong. Semua rangkaian KRL berwarna sama yaitu merah di bagian muka, perak di bagian badan dan strip kuning – merah, Semua rangkaian di alokasikan pemeliharaanya di depo Depok dan beroperasikan di lintas Bogor, Serpong, Bekasi dan Tangerang. Berikutnya adalah KRL Tokyo Metro 05. KRL yang tiba di Indonesia pada Agustus 2010 ini, memiliki warna sama dengan KRL TM7000 dan TM6000 dan di jendela kabin bagian depan di pasang tralis guna mencegah kaca pecah karena lemparan batu. Selanjutnya KRL JR203. KRL yang tiba di Indonesia pada 2 Agustus 2011 ini, kemudian mengalami modifikasi pergantian warna, dengan cat warna a la KCJ merah kuning. Di sela program mendatangkan KRL eks Jepang itu, PT Inka, Madiun kembali meluncurkan KRL buatan anak negeri pada 2011. Yakni, KRL i9000 (KRL KfW). Sebanyak 10 set (berformasi 4 kereta) KRL i9000 ini akhirnya digunakan pada tahun 2013 setelah menjalani uji coba lintas Duri-Tangerang, Tanah Abang-Maja, dan Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan-Jakarta Kota, semuanya pergi-pulang (PP). Namun sejak 17 September 2014, KRL i9000 tidak dipergunakan lagi. Seluruh kereta yang dikenal juga sebagai KRL KfW itu ditarik, dipensiunkan sementara dan ditempatkan di dipo Manggarai, Depok, dan Duri. Menurut Menhub Ignasius Jonan, KRL KfW dipensiunkan karena KRL buatan PT Inka itu tidak layak untuk pengangkutan orang karena banyak yang tidak memenuhi aspek keselamatan. “Bermasalah pada unsur safety. Misalnya, pintu harus dibuka kiri, begitu tombol yang digunakan untuk buka kiri yang kebuka malah pintu kanan,” ujar mantan Dirut PT KAI itu seperti dikutip kompas.com (20/7/2015). KRL eks Jepang yang terakhir adalah JR 205. KRL yang dikirim melalui pelabuhan Niigata ini tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada November 2013 lalu. Sebanyak 50 dari 180 unit KRL seri 205 pesanan PT KCJ ini rencananya akan dioperasikan di jalur komuter Jabodetabek untuk menambah jumlah perjalanan, dan menggantikan unit-unit KRL yang memiliki masalah dalam pendinginan ruangan. Berbeda dengan KRL lainnya, KRL yang dulunya pernah beroperasi di jalur SaikyÅ ini memiliki unit kereta dengan 6 pintu pada setiap sisinya.(BS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *