SHARE

METROPOLITAN.ID | DEPOK – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok Muhammad Supariyono menilai bahwa mutu pendidikan di Kota Depok belum sesuai dengan visi-misi pembangunan kota, yaitu menuju kota niaga dan jasa. Sedangkan sektor pendidikan diharapkan mampu selaras dengan mencetak wirausahawan. Semestinya, kata Supariyono, kurikulum pendidikan di Kota Depok bisa membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berorientasi pada bisnis atau wirausaha karena belum mempunyai sekolah khusus yang mampu mencetak pelajar menjadi wirausaha. Bukan hanya menjadi produk pendidikan yang normatif seperti sekolah pada umumnya, tapi seharusnya buat sekolah berbasis bisnis yang kurikulumnya dipertajam ke arah sana. “Jangan hanya sekolah formal biasa,” kata Supariyono pada acara sosialisasi Rencana Pembangunan (Rembang) Kota Depok 2016 di salah satu hotel, kemarin.
Ia juga menilai mutu pendidikan di Kota Depok belum maksimal. Pasalnya, berdasarkan data yang dia miliki bila di rata-ratakan, tidak semua warga Depok lulus sekolah tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). “Pendidikan di Depok baru sampai 11,3 tahun padahal wajib belajarnya 12 tahun,” imbuhnya.Menurutnya, Depok merupakan kota yang berbatasan dengan Jakarta yang menjadi etalase Indonesia dan dunia. Bila ditilik dari angka nasional, tingkat pendidikan warga Depok masih lebih tinggi. Sebab, rata-rata belajar masyarakat Indonesia hanya sampai tujuh tahun atau tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Jangan puas dulu melihat Depok berbatasan dengan Jakarta,” ucapnya.Supariyono menambahkan, ada beberapa faktor penyebab usia belajar di Depok pada angka 11,3 tahun, di antaranya pola pikir warga terhadap pendidikan yang dirasa belum penting, faktor ekonomi dan faktor budaya. ”Makanya, mindset-nya harus dirubah menjadi sekolah negeri yang gratis di Depok,” ujarnya.Bila berkaca pada Israel, ungkapnya, bangsa Indonesia sangat jauh tertinggal dalam bidang pendidikan. Faktanya, dari satu juta penduduk Israel yang bergelar doktor mencapai 16 ribu jiwa. Belum lagi hampir seluruh dunia menggunakan produk Israel.
“Banyak warga Depok putus sekolah yang seharusnya bisa mencontoh Israel dalam pendidikan,” tutupnya. (gie/tur/ar/ram/run)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY