SHARE

METROPOLITAN.ID – Sepi tanpa penghuni. Hanya ada kicauan burung diselimuti udara dingin yang menyentuh kulit di kaki Gunung Salak. Bangunan yang dulunya menjadi buruan banyak orang karena ulah sang empunya itu ditinggal begitu saja. Ya, ini adalah tempat yang pernah menjadi lokasi persemedian Ahmad Musadeq atau yang bisa disapa Abdul Salam alias si Nabi Palsu. Musadeq kembali menjadi sorotan menyusul organisasi Gafatar yang kabarnya membawa kabur si dokter cantik Ricca.
Jalanan terjal, rimbunnya pohon serta bau belerang menyengat berasal dari kawah ratu mengantarkan kaki menuju salah satu vila yang dulunya menjadi tempat berkumpul para jamaah Al Qiyadah Al Islamiyah di Kampung Cimudal, Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.
Vila itu nampak tak terawat dan sudah dijual kepada orang lain setelah sang pemiliknya ditangkap pada 2006 silam. Vila yang memiliki luas sekitar 4.000 meter persegi itu dulu menjadi tempat berkumpulnya Musadeq dengan para pengikutnya. Vila yang nampak asri dan dipenuhi pepohonan serta tiga kolam renang itu menjadi saksi sang Nabi Palsu menggelar ritualnya.
Tak hanya vila, sisa peninggalan Musadeq lainnya adalah gubuk di atas tebing terjal yang menjadi tempat persemediannya. Gubuk itu kabarnya menjadi tempat Musadeq mendapat wahyu sebagai nabi. Setelah tak lagi digunakan, gubuk dibakar dan menjadi hutan yang dipenuhi pohon pakis. Sudah tak ada aktivitas di lokasi itu.
Sebagaimana diketahui, paham Al Qiyadah Al Islamiah pernah ramai diperbincangkan beberapa tahun lalu saat muncul orang bernama Ahmad Musadeq yang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad. Musadeq saat itu merekrut banyak orang dan mengajarkan ajaran yang dianggap menyimpang, termasuk dalam tata cara beribadah. Al Qiyadah Al Islamiah dinyatakan organisasi terlarang dan akhirnya dibubarkan.
Nama Musadeq kembali menjadi perhatian menyusul organisasi Gafatar  ramai diperbincangkan setelah hilangnya dokter cantik di Yogyakarya, dr Rica Tri Handayani. Wanita berhijab itu menghilang bersama anaknya dan diduga ikut Gafatar.
Ketua RT  03/09, Desa Gunungsari, Pamijahan, Kabupaten Bogor, Salahudin, mengaku terkejut saat mendengar aliran yang berkaitan dengan Musadeq. “Aliran apa pun namanya yang pasti dari dulu warga sini taat agama Islam. Setahu saya dia sempat ke Aceh mendirikan suatu organisasi beranggotakan anak muda, kegiatannya olahraga dan kesenian,” kata Salahudin kepada Metropolitan, kemarin.
Ia menceritakan, dulunya saat pertama masuk Musadeq merupakan orang yang pandai bersosialisasi dengan warga. Perilakunya sopan, selalu berpeci dan ramah senyum. “Kami warga di sini tidak menyangka, di balik kebaikannya ada ajaran sesat yang dibawanya. Kami kenal Ahmad Musadeq itu dengan nama Abdul Salam,” tegasnya sambil menunjukkan sebuah rumah yang dulunya pernah ditempati Nabi palsu tersebut.
Hal senada diungkapkan Ariwibowo. Pria berusia 39 tahun ini menjadi salah satu saksi hidup sekaligus orang yang melarang keras masuknya aliran sesat  ke kampung yang asri dan memiliki sari’at Islam yang kental itu.
Soal organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), nama Musadeq mendapat sorotan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memperhatikan pola gerakan Gafatar menyebut organisasi itu terindikasi pecahan Al Qiyadah Al Islamiah yang dulu dipimpin Ahmad Musadeq.
”Gafatar ini metamorfosis dari beberapa aliran. Ini yang sedang kita kaji. Salah satunya di beberapa daerah dia terindikasi sebagai pecahan Al Qiyadah Al Islamiyah,” kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH Cholil Nafis, kemarin.
Menurut Cholil, pola gerakan Gafatar di tiap daerah berbeda-beda. Namun yang paling mencolok gerakan ini mirip gerakan yang pernah dibawa Ahmad Musadeq. ”Ada sebagian di Aceh itu memang jelas pecahannya Al Qiyadah Al Islamiah Ahmad Musadeq. Ada juga pecahan Dien Abraham,” jelasnya.
MUI masih melakukan pengkajian mendalam terkait organisasi ini. Apalagi belakangan marak adanya laporan orang hilang secara misterius dan diduga kuat bergabung dengan Gafatar.
”Ini kami sedang mendalami dan meneliti secara komprehensif. Nanti setelah ada kesimpulan dari hasil penelitian akan kami sampaikan dengan terbuka soal Gafatar ini,” tegasnya.
Di tempat terpisah, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, Gafatar tak pernah tercatat secara nasional di Kementerian Dalam Negeri. ”Kami sudah memantau dengan baik lewat Dirjen Politik kita bahwa di tingkat nasional itu (Gafatar) tidak terdaftar,” kata Tjahjo.
Sementara itu, mewaspadai gerakan organisasi yang meresahkan masyarakat ini, Polri mengidentifikasi lokasi para pengikut Gafatar. ”Kita sekarang identifikasi dulu di mana kantongnya, jangan salah bertindak, perlu satu pendalaman intelijen dulu,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan.

SERING KE BOGOR
Keberadaan Gafatar ikut meresahkan warga Bogor. Terlebih sebelumnya sering kali kegiatan-kegiatan Gafatar dilakukan di Kota Hujan seperti donor darah, sumbangan anak yatim dan beberapa yang lainnya.
Bahkan Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman sempat hadir dalam acara tersebut dan mendapat piagam penghargaan.
Usmar mengatakan, dirinya pernah hadir dalam acara yang diselenggarakan Gafatar, namun menurutnya ia tak mengetahui organisasi tersebut sesat. “Saya dulu hanya sebatas undangan dan tidak mengetahui organisasi itu sesat. Kalau tahu ya saya tidak akan datang,” ujarnya kepada Metropolitan.
Usmar menolak kehadiran organisasi Gafatar yang ada di Kota Bogor. Karena menurut dia, kehadiran Gafatar dapat meresahkan masyarakat yang ada di Kota Bogor, terlebih saat ini organisasi itu sangat sulit dideteksi.
Dengan wajah kesal Usmar memperlihatkan sertifikat penghargaan yang diterima dirinya ketika menghadiri acara Gafatar. Bahkan Usmar merobeknya di hadapan awak media. “Ini bukti saya menolak kehadiran Gafatar di Kota Bogor,” paparnya.
Usmar berharap warga Bogor bisa lebih waspada dengan adanya organisasi-organisasi yang berkedokan sosial, namun pada ujungnya akan menjadi organisasi ektrimis. (ads/mam/d/de/er/wan)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY