News, Sport and Lifestyle

Negara-negara Arab Sebut Iran Provokator

METROPOLITAN.ID | Kairo – Para menteri luar negeri (menlu) negara-negara Arab berkumpul di Kairo Minggu (10/1) dan membuat pernyataan bersama mengecam “aksi bermusuhan dan provokasi oleh Iran” dalam sengketa diplomatik dengan Arab Saudi.seperti dilaporkan AFP, para menlu anggota Liga Arab itu berkumpul untuk memberikan dukungan kepada Saudi, di tengah memanasnya hubungan dengan Iran yang bisa mengacaukan upaya penyelesaian sejumlah konflik di Timur Tengah, termasuk perangsaudara di Suriah.Menlu Saudi Adel al-Jubeir membantah tuduhan Iran bahwa negaranya memanfaatkan konflik diplomatik dengan Teheran untuk mundur dari upaya internasional mengakhiri perang saudara di Suriah yang telah berlangsung hampir lima tahun.Saudi dan Iran berada di pihak berseberangan dalam konflik tersebut, di mana Riyadh mendukung kelompok pemberontak sementara Teheran berada di belakang Presiden Bashar al-Assad.Dua negara itu ikut dalam perundingan internasional di Wina, Austria, tahun lalu yang menyetujui rencana proses perdamaian dalam 18 bulan dan jadwal pertemuan berikutnya pada 25 Januari.Kami telah sebelumnya menyatakan dukungan kami bagi kelompok oposisi Suriah dan bagi upaya-upaya menemukan solusi damai di Suriah,” kata Jubeir.”Sikap kami masih sama, kami yakin akan hal ini dan mendukung penuh (proses damai) meskipun ada perbedaan-perbedaan kami dengan Iran,” ujarnya.Negara-negara anggota Liga Arab antara lain Aljazair, Arab Saudi, Bahrain, Kep. Komoro, Djibouti, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Libya, Mauritania, Maroko, Oman, Palestina, Qatar, Somalia, Sudan, Suriah (diwakili oposisi), Tunisia, Uni Emirat Arab, dan Yaman.Menjelang pembicaraan dengan utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, di Teheran, Minggu, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menuduh Riyadh berusaha “menciptakan ketegangan dengan maksud memberi dampak negatif pada krisis Suriah.”Namun setelah perundingan di Teheran dan juga dengan para pejabat Saudi pekan lalu, de Mistura mengatakan kedua negara telah berjanji untuk melanjutkan upaya-upaya damai.”Menteri luar negeri Saudi menjamin ke saya bahwa tidak akan ada dampak dari sudut pandang mereka, di Iran saya mendapatkan jaminan yang sama,” ujarnya kepada wartawan.Konflik diplomatik itu terjadi setelah Saudi pada 2 Januari mengeksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr, bersama dengan 46 narapidana lainnya dengan vonis terorisme.Eksekusi tersebut memicu demonstrasi anti Saudi di banyak negara Syiah termasuk Iran, di mana para demonstran menerobos masuk dan membakar gedung kedutaan Saudi di Teheran dan kantor konsulat di Mashhad.Riyadh lalu memutus hubungan diplomatik dengan Teheran hari berikutnya dan sejumlah negara yang mayoritas Muslim Suni mengikuti langkahnya, termasuk Bahrain dan Sudan. Negara-negara Arab lainnya menurunkan status diplomatik atau memanggilpulang duta besar dari Iran.Hari Minggu, negara-negara Liga Arab menyebut reaksi Iran atas eksekusi itu sebagai “upaya intervensi” dalam masalah dalam negeri Saudi.Masalah meningkat ketika Teheran Kamis lalu menuduh pesawat-pesawat tempur Saudi membom kedutaannya di Yaman dan melukai sejumlah staff, serta bertekad malancarkan protes lewat Dewan Keamanan PBB.Riyadh, yang memimpin intervensi militer negara-negara Arab melawan para pemberontak Syiah dukungan Iran di Yaman, membantah tuduhan itu dengan mengatakan tidak ada operasi di dekat kantor kedutaan Iran.Saudi dan Bahrain juga memutus hubungan udara dengan Iran, sementara Teheran melarang impor produk-produk Saudi.(bs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *