Optimisme Ahok, Pesimisme Ahok

by -

METROPOLITAN.ID – Tiga hari belakangan, hujan jatuh di wilayah Jakarta dengan tingkat sedang hingga tinggi. Limpahan air masih terlihat di beberapa ruas jalan, seperti dicatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta.

Meski limpahan itu belum terlalu dianggap mencemaskan, kondisi ini setidaknya dapat dijadikan indikasi bahwa saluran air yang menjadi kanal peredam genangan di jalanan belum sepenuhnya berfungsi maksimal.

Data BPBD Jakarta pada Minggu (24/1) ketika hujan membasahi ibu kota Indonesia boleh menjadi rujukan. Saat itu, dalam durasi dua jam (pukul 20.00 – 22.00 WIB), beberapa bagian jalan berikut tergenang dengan tinggi 5 – 30 cm.

  1. 15 – 20 cm, Jl. Joglo Raya (Depan pom bensin), Jakarta Barat.
  2. 10 – 15 cm, Jl. Bojong Indah Raya Kel Rawa Buaya, Jakarta Barat.
  3. 10 – 15 cm, Jl. Prapatan, Senen, Jakarta Pusat.
  4. 5 – 10 cm, Jl. Harsono RM (Depan Diklat BRI), Jakarta Selatan.
  5. 10 – 20 cm, Jl. H Kutong, Joglo, Jakarta Barat.
  6. 10 – 20 cm, Jl. Daan Mogot, Rawa buaya, Jakarta Barat.
  7. 10 – 15 cm, Jl. Pintu 1 Gelora, Jakarta Pusat.
  8. 5 – 10 cm, Jl. Jembatan 3 (Depan RPTRA Pluit Mas), Pejagalan, Jakarta Utara.
  9. 10 – 15 cm, Jl. Kapuk Kamal Raya, Kapuk Muara, Jakarta Utara.
  10. 20 – 30 cm, Jl. Srengseng Raya (Depan SDN 05), Jakarta Barat.
  11. 10-20 cm, Jl. Perintis (Komplek DPR RI), Joglo, Jakarta Barat.
  12. 10-20 cm, Jl. Bangun Nusa Raya (Daan Mogot Real Estate), Jakarta Barat.

Dan puncak musim hujan belum lagi tiba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa musim hujan tahun ini diprediksi akan mencapai puncaknya pada akhir bulan Januari sampai dengan bulan Februari 2016.

Pada pertengahan tahun lalu, Gubernur DKI Jakarta, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama menjamin Jakarta tidak akan terendam banjir meski acap kali dilanda hujan deras. Perkecualian muncul jika bendungan bobol atau pompa pengendali air milik pemerintah Jakarta menjadi objek sabotase, ungkapnya.

“Kalau hujan tiga hari berturut-turut sekalipun, begitu dia berhenti, saya jamin surut. Kecuali pompanya disabotase atau ada bendungan yang jebol,” ujarnya dalam artikel berjudul “Ahok Jamin Jakarta Bebas Banjir”.

Menurutnya saat itu, para petugas kebersihan DKI sudah memeriksa semua saluran air sehingga hujan lebat hanya menyebabkan genangan kecil.

“Sekarang kamu lihat saja. Semalam, hujan besar enggak semalam? Ada genangan enggak di Jakarta? Hampir enggak ada genangan. Karena hampir semua saluran sudah kita obok-obok,” ujarnya.

Namun, Ahok mengakui wilayah Jakarta Barat sempat direndam banjir lantaran pompa pengendali air telat beroperasi. “Tiga kali sampai keempat kali masih ada kegagalan. Di Jakarta Barat keempat kali masih gagal, itu karena pompanya telat. Tapi sekali jika ada hujan, saya jamin surut.”

Berselang lebih dari sebulan, yakni Januari 2016, nada pernyataan mantan pemimpin Kabupaten Belitung Timur itu menyiratkan pesimisme ketika berbicara ihwal potensi banjir di Jakarta.

Di Kompas, dapat terbaca pengakuannya bahwa Jakarta masih terancam banjir. Soalnya, pada hematnya, tanggul laut sepanjang 65 kilometer di pantai utara Jakarta belum berdiri.

“Memang yang paling masalah kalau hujan terus menerus dan laut lagi pasang. Sekarang kamu lihat di Jakarta masih ada genangan karena tempat kami itu rendah kayak mangkok,” katanya. Ahok pula menyinggung wilayah Jakarta Selatan yang hampir semua rumah permanennya dibangun di atas saluran air. Sebagai misal, kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

“Mungkin karena program dulu, badan atau bantaran sungai (boleh didirikan bangunan) dan mereka dapat sertifikat,” ujarnya.

Itu satu masalah. Problem lain yang sulit dibereskan berkaitan dengan pekerjaan para kontraktor. Menurutnya, pihak itu dianggap punya andil dalam kemunculan limpahan air di jalan saat terjadi hujan.

“Kontraktor enggak tanggung jawab. Habis gali tanahnya, semua (pekerjaan) nutupin got,” ujarnya pada awal Januari lalu. Selama ini pun, tuturnya, pengerukan sampah di saluran air terganjal banyaknya kabel galian. Pekerja penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) kesulitan mengeruk saluran air karena kabel-kabel kontraktor tersebut.

Tidak dilupakan pula mental warga dalam menyikapi sampah. Ahok menganggap banyak warga Jakarta yang belum tertib dalam membuang sampah. Kebiasaan itu, yang lazim disaksikan di jalanan, sering membuat tali air tersumbat.

“Jadi tali air kecil, orang buang sampah di jalan, masuk tersumbat. Terus juga banyak trotoar kita tali air itu palsu. Jadi trotoar lama dinding trotoar baru tali airnya disemen, enggak bisa keluar air,” ujarnya dikutip Merdeka.(beritagar.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *