SHARE

kabur ke suriah, penyokongnya dari australia

METROPOLITAN.ID – Muhammad Bahrun Naim (BN) alias Anggih Tamtomo alias Abu Rayan yang merupakan otak teror bom Thamrin rupanya senang berpoligami. Dia memiliki dua istri. Dari istri pertamanya dikaruniai dua anak.
Tercatat sebagai warga RT 01/01, Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasarkliwon, Solo, Jawa Tengah. BN pun makin tenar. Apalagi polisi mengumumkan namanya sebagai otak di balik teror bom Sarinah yang menewaskan delapan orang itu.
BM yang merupakan alumni Program D3 Ilmu Komputer Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2012 itu playboy juga rupanya. Kisah asmaranya pun menarik. Pertengahan Maret 2015, Bahrun membuat gempar satu keluarga di Solo. Keluarga Sugiran (65) dan Surati (54) mengaku resah. Pasalnya, putri keempat mereka yakni Siti Lestari (23) atau Riri hilang sejak awal Februari 2015. Ponsel dan BlackBerry milik Siti tak bisa dihubungi.
Sudharmono (34), kakak Riri mengatakan, adiknya mahasiswi Fakultas Farmasi semester akhir Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dibawa kabur Bahrun Naim. ”Awal 2014, Bahrun Naim atau Anggi bermain ke rumah di Demak bersama Riri mengendarai mobil oranye jenis Picanto. Riri mengenalkan Bahrun kepada orang tua kami. Riri mengaku mencintai Bahrun. Menurut dia, Bahrun ustadz yang baik dan mau menjadikan dirinya sebagai istri,” cerita Sudharmono.
Setelah terus terang, ibu Riri menolak Bahrun karena telah memiliki istri dan dua anak. Hari itu Bahrun sempat bermalam di rumah dan besoknya kembali ke Solo dengan Riri. Bahrun menginap di rumah Riri untuk meyakinkan orang tua si gadis bahwa dia mencintainya.
Dalam perkembangannya, pada Juli 2014 Riri menelepon ayahnya karena mau pindah kos. Semula kos Riri bernama Kos Mama yang berada di Jalan Menco Raya Gang II Nomor 9, RT 4/10, Gonilam, Surakarta. Namun permintaan pindah indekos ditolak ayahnya.
”Pada Juli 2014, Riri mudik Lebaran ke Kalimantan ketemu bapak dan keluarga di Pangkalanbun dan tak ada perilaku mencurigakan. Bapak dan ibu saya memang bekerja di Kalimantan sebagai pedagang kain. Pada 22 Januari 2015 minta kiriman Rp3,5 juta untuk bayar semester. Namun, tiba-tiba pada 30 Januari Riri mengirim semua buku, baju, Kartu Keluarga ke Demak. Lalu Awal Februari tak bisa dihubungi keluarga. Riri menghilang membawa motor Yamaha beserta BPKB dan sebuah laptop Toshiba,” ungkapnya.
Hasil investigasi keluarga yang dilaporkan ke Polres Sukoharjo, Bahrun adalah mantan napi kasus terorisme. Keluarganya mengorek informasi di Solo atas bantuan Fenti, teman kos Riri. Saat didatangi kamar kosnya kosong.
Pencarian Riri terus dilanjut. Riri mendatangi keluarga Bahrun pada Februari 2015 di Sangkrah Pasar Kliwon. Ibunya mengaku Bahrun sudah izin meninggalkan Solo bersama istrinya dan kedua anaknya tapi tak jelas ke mana perginya.
Dari  informasi itu, sejak Agustus 2014 Riri kerap terlihat berboncengan dengan Bahrun dan mengaku telah menikah. Riri juga sempat bercerita kepada teman-teman mengenai keinginannya pergi ke Suriah.
Kabar mengenai hilangnya Siti Lestari akhirnya mulai terkuak. Komandan Kodim 0716/Demak Letkol Inf Ari Aryanto menegaskan, Siti tak pergi ke Suriah, melainkan kabur bareng pacarnya. Dia menjamin hilangnya Siti lantaran masalah asmara.
Berdasarkan catatan, Bahrun Naim pernah ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror pada November 2010 silam. Polisi juga menyita ratusan butir peluru dari rumah kontrakan Bahrun yang berada di Kecamatan Pasarkliwon, Solo.
Dari Jakarta, Mabes Polri mengumumkan penyokong dana teror bom Tahmrin dan sejumlah wilayah di Indonesia. Akhir pekan kemarin, Mabes Polri mengklaim telah menangkap orang yang memegang dana aksi teror di Jalan M H Thamrin itu. ”(Dana) itu ditransfer BN (Bahrun Naim),” kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di gedung Divisi Humas Mabes Polri. Dana itu digunakan untuk pengembangan dan aksi. Polri menyebut Bahrun Naim sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara dan menjadi dalang di balik serangan mematikan di Thamrin tersebut.
Kapolri menegaskan, jumlah dana yang ditemukan cukup besar. Caranya dana itu dicairkan secara bertahap melalui transfer berkali-berkali. ”Jumlahnya sekitar Rp40 juta sampai Rp70 juta (tiap transfer). Itu digunakan bertahap,” kata Badrodin. Dana yang diberikan Bahrun ini dikirim langsung dari Suriah menggunakan Western Union.
Pemegang dana yang ditangkap Polri ini merupakan satu dari 12 orang yang ditangkap Tim Densus 88 Antiteror sejak serangan Thamrin.
Terpisah, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan adanya aliran dana untuk kegiatan teror di Indonesia yang datang dari Australia. Kendati demikian, aliran dana itu tidak terkait teror bom yang terjadi di Jalan M H Thamrin. ”Beberapa waktu lalu kami dapat info dari PPATK, ada aliran dana dari Australia, tapi bukan dalam konteks kejadian kemarin,” katanya. (tem/tri/wan)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY