METROPOLITAN.ID – Sambil menangis keras, wanita bertubuh tinggi kurus itu terus memanggil nama suaminya. Suara tangisnya pun memecah keheningan Kampung Pasareanpleton, Desa Pasarean, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Mimin (35) tak kuasa menahan sedih saat sang suami dibawa sejumlah pria bersenjata ke dalam mobil. “Jangan bawa suami saya,” teriaknya.
Sambil berlari ke arah mobil di depan rumahnya, Mimin mengejar sang suami, Endi (40) yang dibawa sekelompok orang berpakaian bebas. Pria itu menga­ku sebagai polisi. ”Salah apa suami saya,” teriak Mimin. Sang suami kemudian dimasukkan ke dalam mobil warna hitam.
Saat dibawa, Endi yang bekerja sebagai sopir taksi itu diapit dua orang sambil dipegangi tangannya. Di belakangnya diikuti orang-orang yang ikut dalam rombongan mobil.
Mimin mengetuk pintu kaca mobil sambil menanyakan suaminya mau dibawa ke mana. “Suami saya salah apa,” katanya.  Nampaknya sejumlah pria itu tak mempedulikan teriakan Mimin. Mereka lalu pergi meninggalkan kampung tersebut.
Warga sekitar yang mendengar teriakan Mimin berhamburan keluar rumah dan berusaha menolong ibu empat anak tersebut. Bahkan Mimin sempat pingsan.
Mimin hingga kini masih syok dengan peristiwa yang telah menimpanya. Mimin mengatakan, awalnya sekitar pukul 17:30 WIB ada beberapa orang yang tak dikenal datang ke rumah menanyakan suaminya.
“Saat suami baru sampai di depan gang rumah, mereka langsung membawa ke dalam mobil,” kata Mimin saat ditemui di rumahnya, kemarin.
Melihat kejadian itu, salah satu mobil dihentikan Mimin untuk menanyakan suaminya akan dibawa ke mana. ”Mereka cuma bilang suami ibu saya bawa, nanti ibu tahu,” akunya. Hingga kini pihak keluarga tak mengerti kenapa Endi dibawa polisi. “Kami juga bingung di mana dia (Endi),” katanya.
Ketua RT 01, H Jumsari mengatakan, Sabtu (16/1) sekitar pukul 18:00 WIB di rumah Endi terdengar suara gaduh. Ia melihat orang tak dikenal dengan perawakan seperti polisi menggunakan baju hitam dan datang menggunakan empat mobil yang diparkir di depan jalan.
Jumsari menjelaskan, Endi merupakan warga Kampung Kaum yang menikah dengan warga Pasarean. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hati, Endi bekerja sebagai so­pir taksi di Ciputat. ”Adanya penangkapan warga oleh orang tak dikenal langsung kami laporkan ke kepala Desa Pasarean,” ujarnya.
Terpisah, Kapolsek Cibungbulang Kompol Ronny Mardiatun membenarkan adanya penangkapan warga Pasarean. Namun, pihaknya belum me­ngetahui lebih jelas kasus tersebut apakah terkait kasus teror atau tidak. Sebab, tidak ditangani Polsek Cibungbulang.
”Anggota yang ngakunya reserse datang ke rumahnya untuk nanya di mana barang yang dititip sama sopir taksi. Kita juga tidak tahu barangnya itu apa,” kata Ronny. Pihaknya belum mengetahui dari kesatuan mana anggota reserse yang menangkap Endi.

TITIP WASIAT
Sementara itu terkait kasus bom Jakarta, polisi terus menyelidiki 13 terduga teroris yang ditangkap di beberapa daerah seperti Cirebon dan Bekasi yang diduga berkaitan dengan teror Jakarta. Polisi mulai menemukan peran dari terduga teroris yang ditangkap.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Anton Carlian mengatakan, polisi sudah memeriksa 8 dari 13 orang yang ditangkap. Dari 8 orang ini tidak semua terkait langsung dengan teror Jakarta. ”Ada 6 orang yang berhubungan langsung dengan seorang pelaku. Lalu dua orang lainnya tidak berhubungan langsung tapi berafiliasi,” kata Anton, kemarin.
Dari hasil pemeriksaan polisi, enam orang diketahui menerima pesan langsung dari teroris yang meledakkan diri di Pos Polisi depan Sarinah, Dian. Pesan itu disampaikan sebelum serangan bom dilakukan.
”Dia (pelaku teror) memberikan pesan, seolah wasiat, ’saya akan mengadakan teror, titip istri saya, anak saya’. Ini masih terus kita dalami,” kata Anton.
Sedangkan dua orang lainnya yang ditangkap di Bekasi memang tak berhubungan langsung dengan pelaku, hanya saja keduanya memiliki peran lain. ”Mereka ini yang memberikan bahan-bahan, seperti supplier lah. Atau mungkin yang mengajari merakit bom. Ini juga terus kita dalami,” imbuhnya.
Usai kasus teror Thamrin, polisi bergerak menyisir pelaku lain yang diduga kuat terkait kelompok teror Jakarta. Polisi bergerak ke beberapa daerah dan berhasil menangkap para terduga teroris.
Ada pun terduga teroris yang ditangkap, 3 orang di Cirebon, 2 orang di Indramayu, 1 orang di Balikpapan (Kalimantan Timur), 2 orang di Tegal (Jawa Tengah). Kemudian 4 orang ditangkap di Bekasi dan 1 orang di Cipacing (Jawa Barat).

PERIKSA ADIK BAHRUN
Mabes Polri juga meminta waktu ke publik untuk bisa mengungkap soal keaslian suara dari Bahrun Naim yang disebut sebagai sosok yang bertanggung jawab dalam aksi teror di Thamrin, Jakarta Pusat.
Hal ini dilakukan karena Bahrun membantah dirinya adalah dalang di balik teror Thamrin. Bantahan itu beredar di situs berbagi audio SoundCloud. Durasi rekaman itu hanya 6 detik. Judulnya ”Bantahan Bahrun Naim”. ”Lha, wong saya itu jarang online, dikira komunikasi, komunikasi dari Hong Kong apa?” demikian isi rekaman suara itu.
Adik Bahrun Naim, Dahlan Naim, ikut berkomentar. Menurut dia, suara itu sangat mirip dengan suara sang kakak. ”Saya yakin 99 persen itu suara kakak saya, dia juga sering bercanda ”dari Hongkong”,” kata Dahlan.
Akankah Bareskrim memeriksa Dahlan untuk diminta keterangannya? Menurut Kavid Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan itu mungkin saja terjadi.
”Bisa saja (adik Bahrun diperiksa), itu bisa jadi petunjuk. Rekaman suaranya masih kami perdalam, kami masih butuhkan sampai voice Bahrun,” jelasnya.
Sementara itu, Densus 88 membawa seorang napi teroris yang mendekam di LP Kembang Kuning bernama Syaiful Anam alias Mujadid alias Brekele. Syaiful dibawa ke Jakarta karena diduga terlibat dalam kasus bom Thamrin.
Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) Jawa Tengah Molyanto mengakui Densus 88 membawa seorang napi dari LP Kembang Kuning lantaran ada dugaan yang bersangkutan terlibat dalam kasus bom Thamrin.
Saat ini pihaknya telah meningkatkan pengamanan di LP khusus napi terorisme di Nusakambangan. ”Sekarang pengamanan tak hanya dari internal saja, tapi juga melibatkan anggota kepolisian dibantu aparat TNI,” ujar Molyanto.
Saat membawa Syaiful dari LP Nusakambangan, Densus 88 juga menyita sejumlah telepon seluler, router penguat sinyal beserta adaptor, untaian kabel panjang dan juga sejumlah uang.

ISTRI RAIS SYOK
Di tempat terpisah, istri salah satu korban teror bom Thamrin, Laili Herlina (35), belum masuk kerja karena kondisinya lemah selepas meninggalnya sang suami, Rais Karna (37). Laili belum bisa beraktivitas seperti biasa. ”Masih sibuk ngurusin pengajian di rumah,” ujar Rahmat (32), adik korban.
Rahmat mengatakan, istri dan anak-anak alamarhum masih bertahan di kontrakannya. ”Dari dulu sebelum kejadian memang suka ada saja masalah. Tapi, tidak mungkin harus keluar,” ujarnya.
Menurut Rahmat, semua permasalahan di sekitar rumah kontrakan kakaknya saat ini sudah selesai, termasuk dengan pemilik kontrakan.
Rais sempat koma dan dirawat tiga hari di Rumah Sakit Abdi Waluyo hingga akhirnya meninggal dunia. Kematian Rais membuat bingung keluarga karena masa depan kedua anak almarhum, terutama pendidikannya.
Sebelumnya diberitakan, malang nasib keluarga Rais Karna (37), korban tewas bom Thamrin, Kamis (14/1) lalu. Belum habis duka yang dialami keluarga pasca kematian Rais, keluarga korban penembakan kabarnya diusir dari rumah kontrakannya di Kampung Pleret, Desa Pabuaran, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor. (ads/c/tib/lip/er/wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here