SHARE

METROPOLITAN.ID | Jakarta – Pemerintah akan memberikan insentif bagi dosen pengelola jurnal ilmiah, karena tugas membuat jurnal ilmiah dinilai merupakan pekerjaan yang sulit.Apalagi bila jurnal ilmiah ditulis mengunakan bahasa Inggris, kata Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemristekdikti, Ali Gufron.Gufron mengatakan adanya insentif dapat menjadi salah satu cara mendorong peningkatan jumlah jurnal ilmiah karena saat ini Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara Asean lainnya.Dosen pengelola jurnal harus diberi insentif karena mereka akan mengelola dan mengevaluasi jurnal yang ditulis dalam Bahasa Inggris, itu bukan hal yang mudah,”kata dia pada peluncuran Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) di Auditorium Binakarna, Gedung Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa ( 12/1).Dia menyebutkan, jika dibandingkan dengan Filipina, saat ini jumlah jurnal ilmiah Indonesia lebih tinggi, namun jika dibandingkan dengan negara Asean lainnya masih tertinggal. Berdasarkan data, jumlah jurnal ilmiah Indonesia baru mencapai 5.500, sedangkan, Malaysia sudah mencapai 25.000, diikuti Singapura 17.000 dan Thailand sebanyak 12.300.Meskipun demikian, Gufron mengatakan, Indonesia bisa menghasilkan jurnal lebih banyak lagi jika setiap dosen yang akan menjadi profesor diwajibkan menghasilkan jurnal ilmiah dengan proses penelitian dan temuan baru dengan analisis yang tajam dan sesuai dengan ketentuan jurnal internasional.Selanjutnya, dia menuturkan, kelemahan dosen Indonesia sulit menghasilkan jurnal ilmiah karena kebanyakan dosen Indoensia masih gagap dalam menulis jurnal mengunakan Bahasa Inggris.Padahal bahasa Inggris merupakan salah satu syarat penulisan jurnal ilmiah.(BS)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY